M. Sholehudin, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik (Humas)
Bagi sebagian orang, bangku kuliah mungkin menjadi perjalanan yang biasa. Namun bagi M. Sholehudin, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), menempuh pendidikan tinggi adalah perjuangan panjang yang dibayar dengan air mata, pengorbanan, dan keteguhan hati yang luar biasa.
Lahir dan besar di Desa Soket Laok, sebuah desa terpencil di Kabupaten Bangkalan, Sholeh tumbuh dalam keterbatasan ekonomi. Sejak duduk di bangku SD Negeri Soket Laok 1, ia telah mengenal kerasnya kehidupan. Berangkat sekolah tanpa sepatu bukanlah hal yang asing baginya. Uang saku sebesar Rp500 pun hanya bisa ia nikmati ketika memiliki uang sendiri.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat belajarnya tidak pernah padam. Saat menempuh pendidikan di SMP IT An-Najah, kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus belajar mandiri sejak usia muda. Di sela-sela sekolah, ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya sendiri, mulai dari membeli seragam hingga mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Perjuangan itu berlanjut saat ia bersekolah di SMK An-Najah. Selain belajar, Sholeh membantu kedua orang tuanya mengolah ladang.
“Waktu SMA orang tua sudah mulai tua. Saya terbiasa membantu menanam dan memanen hasil ladang. Saya juga membantu berbagai pekerjaan di sekolah,” kenang Sholeh, Senin (31/5/2026).
Ketika duduk di kelas XII, ia dihadapkan pada pilihan besar yang menentukan masa depannya: melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Sebagai anak dari orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan berasal dari lingkungan keluarga yang sebagian besar hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, Sholeh menyimpan kekhawatiran besar. Ia takut tidak mampu melanjutkan pendidikan lebih tinggi daripada ayah, ibu, maupun saudara-saudaranya.
Kekhawatiran itu semakin nyata ketika keinginannya untuk kuliah tidak mendapatkan restu dari orang tua. Kondisi ekonomi keluarga menjadi alasan utama.
“Saya sempat mendaftar ke salah satu perguruan tinggi di Bangkalan tanpa sepengetahuan orang tua, tetapi gagal dalam proses seleksi,” ujarnya.
Tidak menyerah, Sholeh kembali mencoba mendaftar ke Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui jalur Beasiswa KIP Kuliah. Namun sekali lagi, ia belum mendapatkan izin dari orang tuanya.
“Almarhum ibu sering bertanya, ‘Nanti kamu makan apa di Surabaya?’ Itu yang paling beliau khawatirkan,” katanya.
Dengan tekad yang kuat, Sholeh bahkan meminjam uang kepada tetangganya untuk membayar biaya pendaftaran tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Usahanya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah dan resmi menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Namun perjuangannya ternyata belum berakhir.
Memasuki akhir semester dua, ujian hidup datang bertubi-tubi. Ayahnya mengalami stroke, sementara sang ibu didiagnosis menderita prolaps uteri dan harus menjalani operasi.
“Selama libur semester, hampir setiap hari saya mendampingi kedua orang tua keluar masuk rumah sakit,” tuturnya.
Selama dua bulan penuh, waktunya dihabiskan untuk menjaga dan merawat kedua orang tuanya. Namun takdir berkata lain. Menjelang dimulainya semester tiga, sang ibu mengembuskan napas terakhir.
Di tengah kesedihan itu, ibunya meninggalkan pesan yang hingga kini terus hidup dalam ingatannya.
“Cong, sengak panotok yeh kulianah.”
Dalam bahasa Indonesia, kalimat itu berarti:
“Nak, ingat... tuntaskan kuliahmu.”
Kalimat sederhana tersebut bukan hanya menjadi pesan terakhir seorang ibu kepada anaknya, tetapi juga menjadi restu yang selama ini ia perjuangkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Duka akibat kehilangan ibu belum sempat terobati ketika 100 hari kemudian sang ayah juga menyusul berpulang. Dalam waktu yang begitu singkat, Sholeh kehilangan dua sosok yang paling dicintainya.
Di semester tiga, ia sempat berada di titik terendah dalam hidupnya. Kesedihan, kesepian, dan kelelahan seolah memaksanya untuk menyerah. Namun setiap kali ingin berhenti, ia selalu teringat pesan terakhir ibunya.
Pesan itulah yang membuatnya kembali berdiri.
Dengan dukungan Beasiswa KIP Kuliah, Sholeh terus melangkah dan membuktikan bahwa keadaan tidak menentukan masa depan seseorang. Selama berkuliah, ia aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemahasiswaan. Ia dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Teknik, aktif dalam Paguyuban Duta Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, serta terlibat dalam berbagai kegiatan promosi pendidikan ke sekolah-sekolah.
Pengalaman hidup yang penuh perjuangan membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dalam dirinya. Hingga akhirnya ia dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya.
“Alhamdulillah, bersama tim saya juga berhasil memperoleh pendanaan Program BEM Berdampak sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa bagi masyarakat,” ujarnya.
Kini, langkah yang dahulu dipenuhi keraguan telah mengantarkannya ke gerbang kelulusan. Perjalanan seorang anak desa yang pernah sekolah tanpa alas kaki, bekerja sejak usia muda, kehilangan kedua orang tua di tengah perjuangan kuliah, hingga akhirnya berdiri sebagai sarjana menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas keadaan.
Bagi Sholeh, kehilangan orang tua bukanlah akhir perjalanan. Justru dari luka yang paling dalam, ia menemukan alasan untuk terus berjalan. Dari kesedihan yang paling sunyi, ia belajar menjadi lebih kuat.
Sebab hidup mengajarkannya bahwa tidak semua orang beruntung memiliki jalan yang mudah. Ada yang harus menempuh jalan terjal, penuh batu dan air mata. Namun selama harapan masih dijaga, setiap langkah akan menemukan tujuannya.
Hari ini, mungkin ayah dan ibunya sudah tidak lagi berada di sampingnya. Namun doa-doa mereka tetap hidup dalam setiap keberhasilan yang diraih.
Dan ketika toga itu akhirnya dikenakan, Sholeh tidak sedang merayakan kemenangan atas kesulitan hidup. Ia sedang menunaikan janji yang pernah diucapkan dalam diam: bahwa anak desa itu akan terus berjalan, meski kehilangan arah, dan akan tetap berdiri meski berkali-kali jatuh.
(0) Comments