Tak Kenal Batas Usia, Malik Hanafi Wisudawan Asal Halmahera Tempuh Pendidikan Tinggi di Usia 55 Tahun

  • Home -
  • News -
  • Tak Kenal Batas Usia, Malik Hanafi Wisudawan Asal Halmahera Tempuh Pendidikan Tinggi di Usia 55 Tahun
Gambar Berita Tak Kenal Batas Usia, Malik Hanafi Wisudawan Asal Halmahera Tempuh Pendidikan Tinggi di Usia 55 Tahun
  • 01 Nov
  • 2026

Malik Hanafi Wisudawan Umsura (Humas)

Tak Kenal Batas Usia, Malik Hanafi Wisudawan Asal Halmahera Tempuh Pendidikan Tinggi di Usia 55 Tahun

Usia bukan penghalang untuk terus belajar dan meraih pendidikan tinggi. Prinsip itulah yang dipegang Malik Hanafi, wisudawan asal Halmahera Selatan yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada usia 55 tahun.

Hanfi menjadi salah satu wisudawan inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura. Ia berhasil meraih gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains (FPKS), melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Keinginannya untuk menempuh pendidikan tinggi sebenarnya telah lama tumbuh. Namun, keterbatasan kondisi keuangan dan tanggung jawab keluarga sempat membuat cita-cita tersebut tertunda selama bertahun-tahun.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menjalin kerja sama dengan Umsura melalui program peningkatan kualifikasi pendidikan guru jalur RPL. Kesempatan tersebut menjadi pintu bagi Malik untuk kembali melanjutkan pendidikan yang selama ini diimpikannya.

“Sebetulnya keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi sudah lama, tetapi ada kendala terkait keuangan dan keluarga. Alhamdulillah, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bisa bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surabaya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau. Saya juga merasa terpanggil untuk mengikuti program ini,” ungkap Hanafi.

Ia mengaku mulai mengikuti pendidikan tersebut ketika berusia 53 tahun. Baginya, kesempatan itu tidak ingin disia-siakan. Terlebih, sistem perkuliahan yang diterapkan memungkinkan dirinya tetap menjalankan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga.

Perkuliahan dilaksanakan secara daring sebanyak dua kali dalam sepekan, yakni setiap Jumat dan Sabtu pada sore hari. Pola pembelajaran tersebut membuat Malik tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.

Meski demikian, bukan berarti seluruh proses perkuliahan berjalan tanpa hambatan. Ia tetap menghadapi sejumlah kendala teknis, mulai dari jaringan internet yang tidak stabil hingga perangkat pendukung pembelajaran seperti laptop yang terkadang mengalami gangguan.

“Menurut saya, tidak ada kesulitan yang terlalu berat. Paling hanya tugas-tugas yang diberikan, masalah jaringan, serta alat bantu seperti laptop dan lainnya yang terkadang mengalami gangguan,” tuturnya.

Gelar Sarjana Menjadi Kebanggaan Keluarga

Keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi di usia 55 tahun menjadi kebanggaan tersendiri bagi Hanafi dan keluarganya. Ia mengaku dukungan istri, anak, cucu, rekan sesama guru, hingga kepala sekolah menjadi bagian penting yang menguatkannya selama menjalani perkuliahan.

Baginya, gelar sarjana yang kini diraih bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan juga kesempatan untuk membuka peluang baru dalam perjalanan karier dan pengabdiannya.

Malik berharap gelar tersebut dapat mendukung pengembangan kariernya, termasuk peluang kenaikan pangkat dan peningkatan tunjangan hari tua.

Tidak berhenti pada pencapaian akademik, ia juga memiliki keinginan untuk memberikan kontribusi lebih luas kepada masyarakat di daerah asalnya. Setelah menyelesaikan pendidikan, Malik berencana mendedikasikan diri untuk masyarakat. Ia bahkan membuka peluang untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa apabila kondisi tenaga dan waktunya memungkinkan.

“Rencana saya setelah wisuda ini ingin mendedikasikan diri kepada masyarakat. Saya berharap bisa mencalonkan diri menjadi kepala desa. Jika tenaga dan waktu masih memungkinkan, semoga juga bisa mencalonkan diri sebagai anggota legislatif,” ujarnya.

Pendidikan Tidak Mengenal Usia

Di balik keberhasilannya, Malik memiliki pesan sederhana bagi masyarakat, khususnya mereka yang masih ragu untuk melanjutkan pendidikan karena merasa sudah terlalu tua.

Menurutnya, kesempatan belajar seharusnya tidak dibatasi oleh usia. Selama masih memiliki waktu, kesempatan, dan kemauan, siapa pun tetap bisa kembali menempuh pendidikan.

“Pesan saya sangat sederhana, pendidikan dan ilmu itu tidak mengenal usia. Mau 40, 50, 60, bahkan 70 tahun tidak masalah untuk mengikuti pendidikan, selagi masih punya waktu dan kesempatan,” pesannya.

Di akhir wawancara, Hanafi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan pendidikannya. Secara khusus, ia mengapresiasi istri, anak, dan cucu yang selalu memberikan dukungan, serta teman-teman guru dan kepala sekolah yang turut memberikan semangat.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh civitas akademika Umsura, terutama para dosen yang telah mendampingi dan membantu dirinya bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya hingga berhasil meraih gelar sarjana.

“Atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh civitas akademika Umsura dan dosen-dosen yang telah membantu kami meraih jenjang pendidikan sarjana. Mohon maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa. Yang bisa saya berikan hanya doa, semoga semuanya mendapatkan pahala sebesar-besarnya,” tutupnya.

Kisah Malik Hanafi menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk belajar tidak pernah benar-benar terlambat. Di usia ketika sebagian orang mungkin memilih berhenti mengejar pendidikan, ia justru membuktikan bahwa kemauan untuk terus berkembang dapat membawa seseorang mencapai cita-cita yang sempat tertunda.

This news is aligned with SDG number: