Kuliah Gratis Berkat KIP-K, Rasyiid Sulap Uang Saku Jadi Bisnis dan Lulus dalam 3,5 Tahun

  • Home -
  • News -
  • Kuliah Gratis Berkat KIP-K, Rasyiid Sulap Uang Saku Jadi Bisnis dan Lulus dalam 3,5 Tahun
Gambar Berita Kuliah Gratis Berkat KIP-K, Rasyiid Sulap Uang Saku Jadi Bisnis dan Lulus dalam 3,5 Tahun
  • 01 Jun
  • 2026

Abdullah Rasyiid Hariyono (Humas Umsura)

Kuliah Gratis Berkat KIP-K, Rasyiid Sulap Uang Saku Jadi Bisnis dan Lulus dalam 3,5 Tahun

Keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan bagi Abdullah Rasyiid Hariyono untuk menyerah pada cita-citanya. Putra sulung dari empat bersaudara asal Sidoarjo ini berhasil membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan disiplin mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Lulusan Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu menuntaskan pendidikan sarjananya hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57. Tak hanya itu, ia juga mengantongi sertifikasi profesi BNSP, aktif sebagai asisten peneliti, sekaligus sukses membangun usaha digital printing yang dirintis dari nol selama masa kuliah.

Perjalanan Rasyiid menuju gelar sarjana tidaklah mudah. Saat memutuskan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kondisi keluarganya sedang berada dalam situasi yang sulit. Orang tuanya berpisah dan kondisi ekonomi keluarga terbatas. Sebagai anak sulung, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membantu sang ibu menghidupi keluarga.

“Sebagai anak pertama, saya harus ikut memikirkan kondisi keluarga. Saya dan ibu sama-sama berjuang agar adik-adik tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujarnya Senin (1/6/26)

Sebelum menjadi mahasiswa, Rasyiid sempat bekerja sebagai buruh produksi borongan di sebuah garment yang memproduksi tas kecantikan. Selama hampir satu tahun, ia memanfaatkan sistem pembelajaran daring saat pandemi untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.

Setelah lulus SMA, ia belum langsung diterima di perguruan tinggi. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti bermimpi. Rasyiid terus bekerja sambil mencari informasi mengenai program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia diterima sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya sekaligus menjadi penerima beasiswa KIP-K. Baginya, beasiswa tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.

“Beasiswa ini bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga memberikan kepercayaan bahwa saya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” katanya.

Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa, Rasyyid memanfaatkan uang saku beasiswa secara produktif. Ia menyisihkan bantuan tersebut untuk membeli peralatan usaha secara bertahap. Mesin cutting sticker bekas seharga Rp4 juta menjadi aset pertama yang ia miliki.

Berbekal pengalaman bekerja di industri percetakan sebelumnya, Rasyiid melihat peluang besar di sektor digital printing. Ia kemudian membangun usaha creative design dan digital printing yang melayani kebutuhan cetak serta media promosi untuk berbagai pelanggan, termasuk sektor korporasi dan industri.

Usaha yang dirintisnya berkembang perlahan. Keuntungan yang diperoleh terus diputar untuk membeli peralatan produksi tambahan. Dari sinilah lahir kemandirian finansial yang membantunya tetap bertahan selama kuliah sekaligus menopang kebutuhan keluarga.

“Target saya bukan hanya lulus membawa ijazah, tetapi juga memiliki usaha yang bisa membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.

Di tengah kesibukan mengelola usaha, Rasyiid tetap aktif mengembangkan kompetensi akademik. Ia dipercaya menjadi asisten peneliti oleh dosennya dan terlibat dalam sejumlah proyek teknologi terapan.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia bergabung dalam pengembangan Smart Canting with CNC Control, sebuah teknologi yang membantu meningkatkan produktivitas perajin batik. Proyek tersebut diterapkan di UMKM Batik Bambu Mujur, Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Keterlibatannya dalam penelitian itu kemudian menginspirasi topik skripsinya yang berjudul “Rancang Bangun Sistem Kendali Suhu Canting Elektrik Berbasis Logika Fuzzy”. Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan sistem kendali suhu otomatis untuk menjaga kestabilan suhu malam atau lilin batik secara real time.

Menurut Rasyiid, pengalaman sebagai asisten peneliti membentuk pola pikir yang lebih kritis, sistematis, dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Penelitian mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Setiap masalah harus dianalisis berdasarkan data dan dicari solusi yang paling tepat,” jelasnya.

Meski harus membagi waktu antara kuliah, bisnis, organisasi, dan penelitian, Rasyiid mampu menjaga performa akademiknya. Ia menerapkan prinsip skala prioritas dengan menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Pada semester ketujuh, ia berhasil menyelesaikan seminar skripsi dan semakin yakin dapat menuntaskan studi lebih cepat. Tidak lama kemudian, ia dinyatakan lulus dengan masa studi 3,5 tahun.

Momen paling mengharukan baginya terjadi saat mengabarkan kelulusan tersebut kepada sang ibu.

“Saya langsung teringat perjuangan sejak awal kuliah. Rasanya lega karena bisa menepati janji untuk lulus cepat dan memberikan kebanggaan kepada ibu,” ungkapnya.

Di balik keberhasilan itu, Rasyiid mengakui ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Ia harus mengurangi waktu bersantai dan menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk belajar, bekerja, berorganisasi, serta mengembangkan usaha.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana teknik, Rasyiid memiliki mimpi besar untuk mengembangkan karier sebagai engineer di bidang sistem kendali dan otomatisasi industri. Di saat yang sama, ia juga ingin memperluas bisnis digital printing yang telah dirintis selama kuliah agar mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“ Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari perjalanan seseorang. Justru dari keterbatasan itulah kita belajar menjadi lebih tangguh dan mampu menciptakan dampak yang lebih luas,” katanya.

Kepada mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang di tengah berbagai keterbatasan, Rasyiid berpesan agar tidak menyerahkan kendali masa depan kepada keadaan.

“Keterbatasan adalah ruang pembuktian terbaik. Selama kita disiplin terhadap prioritas, konsisten menjalankan target, dan menjaga restu orang tua, tidak ada dinding yang terlalu tinggi untuk diruntuhkan,” pungkasnya.