Kisah Dhia Hana, Mahasiswi yang Sukses Kuliah di Dua Kampus Sekaligus: Arsitektur UMSURA dan FKH Unair

  • Home -
  • News -
  • Kisah Dhia Hana, Mahasiswi yang Sukses Kuliah di Dua Kampus Sekaligus: Arsitektur UMSURA dan FKH Unair
Gambar Berita Kisah Dhia Hana, Mahasiswi yang Sukses Kuliah di Dua Kampus Sekaligus: Arsitektur UMSURA dan FKH Unair
  • 01 Jun
  • 2026

Dhia Hana Putri Saraswati (Humas)

Kisah Dhia Hana, Mahasiswi yang Sukses Kuliah di Dua Kampus Sekaligus: Arsitektur UMSURA dan FKH Unair

Menyelesaikan satu program studi di perguruan tinggi sudah menjadi tantangan besar bagi sebagian mahasiswa. Namun hal berbeda dilakukan oleh Dhia Hana Putri Saraswati. Di saat banyak mahasiswa berjuang menuntaskan satu jurusan, perempuan asal Surabaya ini memilih menempuh dua pendidikan tinggi sekaligus Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan Program Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair)

Pilihan yang tidak biasa itu bukan lahir dari ambisi semata, melainkan dari kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan dorongan kuat dari keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai warisan paling berharga.

“Kesempatan untuk belajar lagi merupakan hal yang saya sukai. Dalam Islam, lelahnya menuntut ilmu adalah sesuatu yang bernilai. Dari pendidikan, kita mendapatkan kebijaksanaan, keahlian, dan pemahaman yang tidak bisa dibeli dengan uang,” ujar Hana Senin (1/6/26)

Perjalanan akademiknya dimulai dari SD Muhammadiyah 4 Surabaya, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 19 Surabaya dan SMA Negeri 20 Surabaya. Setelah lulus SMA, Hana diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga melalui jalur undangan.

Di tengah perjalanannya sebagai mahasiswa kedokteran hewan, sebuah kesempatan baru datang. Pada tahun kedua kuliah, kedua orang tuanya menawarkan peluang untuk mengambil pendidikan lain. Tawaran itu justru membuka jalan bagi Hana untuk mengejar impian yang sejak kecil telah tumbuh dalam dirinya.

“Waktu kecil kalau ditanya cita-cita, saya selalu menjawab berbeda-beda. Pagi ingin jadi dokter, siang ingin jadi guru, sore ingin jadi arsitek, malam ingin jadi penyanyi. Saat dewasa saya baru sadar bahwa ucapan itu bisa menjadi doa,” katanya sembari tersenyum. 

Menyatukan Dua Dunia yang Berbeda

Sekilas, Kedokteran Hewan dan Arsitektur tampak sebagai dua disiplin ilmu yang tidak memiliki hubungan. Namun Hana melihat keduanya dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, baik kedokteran maupun arsitektur sama-sama mengandung unsur seni dalam memberikan solusi bagi kehidupan.

“Di dunia medis ada istilah medicine is an art, sementara dalam arsitektur ada architecture is art. Keduanya sama-sama memiliki seni untuk membantu kehidupan. Kedokteran hewan berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hewan yang berdampak pada manusia, sedangkan arsitektur membantu menciptakan hunian yang sehat, nyaman, dan sesuai kebutuhan manusia,” jelasnya.

Cara pandang tersebut membuat Hana mampu menemukan titik temu antara dua bidang yang selama ini dianggap berjauhan.

Ia bahkan memiliki gagasan besar untuk mengintegrasikan ilmu kesehatan hewan dengan desain bangunan yang sehat dan ramah bagi manusia maupun hewan.

Pagi di Unair, Malam di Umsura

Menjalani dua kuliah sekaligus tentu bukan perkara mudah. Saat perkuliahan berlangsung secara tatap muka, Hana harus berpindah kampus setiap hari.

“Pagi sampai sore saya berada di Unair, kemudian sore hingga tengah malam saya kuliah di Umsura,” tuturnya.

Rutinitas tersebut dijalani selama bertahun-tahun dengan disiplin tinggi. Tantangan terbesar bukan hanya persoalan waktu, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan dua dunia ilmu yang sangat berbeda.

Jika di Fakultas Kedokteran Hewan ia terbiasa mempelajari penyakit, anatomi, kesehatan masyarakat veteriner, dan penularan penyakit dari hewan ke manusia, maka di Arsitektur ia harus memahami ketahanan bangunan, gubahan bentuk, estetika ruang, hingga detail penempatan pencahayaan.

“Tantangan terbesar adalah menyambungkan dua cara berpikir yang berbeda. Dari yang fokus pada makhluk hidup dan kesehatan, saya harus beradaptasi dengan desain, struktur bangunan, warna, dan visualisasi,” katanya.

Tidak jarang kelelahan fisik maupun mental membuatnya ingin menyerah. Terlebih ketika harus menyelesaikan tugas akhir di Arsitektur bersamaan dengan pendidikan profesi yang dijalaninya.

“Tentu ada puluhan kali saya berpikir untuk berhenti. Biasanya saat tubuh dan pikiran sudah sangat lelah. Tetapi di balik pikiran untuk menyerah itu, ada ribuan doa dan semangat dari orang tua, keluarga, dan dosen yang membuat saya bertahan,” ujarnya.

Dukungan Keluarga dan Lingkungan Kampus

Bagi Hana, keluarga merupakan fondasi utama yang membuatnya mampu bertahan.

Ia tumbuh dalam keluarga Muhammadiyah yang menjunjung tinggi pendidikan. Ayahnya aktif dalam Persyarikatan Muhammadiyah dan pernah menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) selama dua periode. Sementara adiknya juga aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah.

“Orang tua saya selalu mengatakan bahwa warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak adalah pendidikan dan teladan akhlak yang baik,” ungkapnya.

Selain keluarga, dukungan juga datang dari lingkungan kampus, khususnya di Fakultas Teknik UM Surabaya. Hana mengaku para dosen Arsitektur sangat terbuka terhadap berbagai kendala yang dihadapi mahasiswa.

Ketika mengalami burnout dan kelelahan, ia berusaha menjaga kesehatan dengan pola makan yang baik, mengonsumsi vitamin, serta memberikan ruang bagi dirinya untuk melakukan hal-hal yang disukai.

Di antara berbagai pengalaman kuliah yang dijalani, ada satu momen unik yang masih diingat banyak dosen dan teman-temannya di Arsitektur.

Saat mahasiswa lain menggunakan stik es krim atau kayu sebagai bahan tugas trimatra, Hana justru memanfaatkan tulang ayam yang telah dibersihkan dan diawetkan.

“Di Kedokteran Hewan, tulang biasanya digunakan sebagai media pembelajaran anatomi. Tetapi saya mencoba mengubahnya menjadi karya tiga dimensi untuk tugas arsitektur,” ujarnya.

Eksperimen tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana dua disiplin ilmu yang dipelajarinya saling bertemu dalam bentuk yang tidak terduga.

Menghubungkan Kesehatan Hewan dan Desain Bangunan

Pengalaman belajar di dua bidang membuat Hana memiliki perspektif yang lebih luas tentang kehidupan.

Menurutnya, kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan tempat hidup.

Ia menjelaskan bahwa sekitar 90 persen penyakit menular pada manusia berasal dari hewan. Karena itu, kesehatan hewan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, desain bangunan yang baik juga memengaruhi kualitas hidup manusia maupun hewan.

“Hewan yang tinggal di lingkungan yang sehat akan menghasilkan kualitas pangan yang baik. Manusia yang tinggal di bangunan yang sehat akan menjadi pribadi yang lebih produktif,” katanya.

Karena itulah, ia bercita-cita membangun peternakan modern dan rumah sakit hewan yang terintegrasi dengan standar kesehatan serta desain bangunan yang optimal.

Ia berharap kelak dapat menghadirkan fasilitas yang tidak hanya nyaman dan aman bagi hewan, tetapi juga mampu mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

“Siapa tahu sebagai kader Muhammadiyah, saya juga bisa membantu menciptakan amal usaha yang menggabungkan dua bidang ini sehingga memberi manfaat yang lebih luas bagi umat,” ujarnya.

Mengejar Banyak Mimpi Sekaligus

Bagi Hana, pengalaman menjalani dua kuliah sekaligus membuktikan bahwa seseorang tidak harus membatasi dirinya hanya pada satu mimpi.

Ia percaya setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih lebih dari satu tujuan dalam hidup selama disertai kerja keras, doa, dan dukungan keluarga.

“Tidak ada yang tidak mungkin. Jangan takut memiliki banyak impian. Jika kalian berjuang untuk sepuluh mimpi dan tidak semuanya tercapai, setidaknya sebagian besar sudah ada di genggaman. Yang penting tetap berusaha, pantang menyerah, dan meminta ridha orang tua,” pesannya.

Perjalanan Dhia Hana menunjukkan bahwa batas sering kali bukan terletak pada kemampuan seseorang, melainkan pada keberanian untuk mencoba. Di tengah kesibukan menempuh dua pendidikan yang berbeda, ia memilih untuk terus belajar, menyatukan ilmu, dan menyiapkan diri menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.