Kelompok Riset Ekofem Edu di Sekolah Hindu Surabaya (Humas)
“Merawat lingkungan itu seperti menjaga pohon angker ada hantunya.”
Jawaban itu muncul dari seorang siswa ketika diminta menyelesaikan kalimat sederhana: “Merawat lingkungan itu seperti...” Siswa lainnya memiliki perumpamaan yang berbeda. Ada yang mengatakan menjaga lingkungan seperti menutup aurat, melawan korupsi, bahkan seperti bermain bola.
Tidak ada jawaban yang dinilai benar atau salah. Mereka bebas menggambar, menulis, dan memilih sendiri perumpamaan yang menurut mereka paling tepat untuk menggambarkan bagaimana rasanya menjaga lingkungan.
Momen tersebut menjadi bagian dari kegiatan penelitian yang dilakukan tim peneliti melalui riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berjudul “Alam sebagai Rumah Bersama: Analisis Control-Value Theory (CVT)-Metafore Approach terhadap Persepsi Ekologis Siswa Sekolah Lintas Iman di Surabaya.”
Penelitian ini mengangkat gagasan “Bumi Bertutur, Bumi Berbicara melalui Karya Anak-Anak Lintas Iman”. Tim peneliti turun langsung ke sejumlah sekolah lintas iman di Surabaya, di antaranya SD Muhammadiyah 4 Surabaya, SD Kristen Kalam Kudus, dan selanjutnya SD Pasraman Saraswati 1 Hindu Surabaya.
Di ruang kelas, anak-anak usia sekitar 10–12 tahun diberikan kertas dan pensil warna. Mereka kemudian diminta menggambar dan melengkapi kalimat:
“Menjaga lingkungan itu seperti... karena...”
Tidak ada contoh jawaban yang diberikan kepada siswa. Mereka justru didorong untuk menemukan metafora berdasarkan pengalaman, pengetahuan, emosi, dan nilai yang mereka miliki sendiri.
Bagi tim peneliti, kegiatan menggambar dan menulis bukan sekadar aktivitas kreatif. Karya anak-anak dipandang sebagai jendela untuk memahami bagaimana mereka membangun hubungan emosional dan nilai terhadap alam.
Sebagian besar siswa menggambarkan objek yang secara umum berkaitan dengan lingkungan, seperti pohon, bumi, sampah, dan berbagai elemen alam lainnya. Namun, muncul pula metafora yang lebih unik dan tidak terduga.
Ada siswa yang menghubungkan menjaga lingkungan dengan menutup aurat, sementara siswa lainnya mengaitkannya dengan melawan korupsi. Ada pula yang menggunakan pengalaman bermain sebagai sumber perumpamaan.
Keragaman jawaban tersebut menunjukkan bahwa cara anak memahami lingkungan tidak selalu hadir dalam bahasa yang secara langsung berbicara tentang pohon, sampah, atau bumi. Pemaknaan ekologis dapat muncul melalui pengalaman sehari-hari, nilai moral, agama, relasi sosial, maupun aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka.
Ketua peneliti, Radius Setiyawan, yang juga merupakan founder Ekofem Edu, mengatakan bahwa penelitian ini ingin melihat lebih jauh bagaimana anak-anak memaknai alam dengan bahasa mereka sendiri.
“Kami tidak ingin memberikan definisi kepada anak tentang bagaimana seharusnya mereka memandang lingkungan. Justru kami ingin mendengarkan bagaimana anak-anak mendefinisikan hubungan mereka dengan alam melalui bahasa, gambar, pengalaman, dan imajinasi mereka sendiri,” ujar Radius Selasa (2/9/26)
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena anak-anak tidak selalu mampu mengartikulasikan pengalaman emosional dan nilai yang mereka miliki melalui pertanyaan survei yang abstrak.
“Metafora memberi ruang bagi anak untuk mengatakan sesuatu yang mungkin sulit mereka jelaskan secara langsung. Ketika seorang anak mengatakan menjaga lingkungan seperti menutup aurat atau melawan korupsi, kita perlu bertanya lebih jauh: nilai apa yang sedang mereka hubungkan dengan lingkungan?,”jelasnya.
Lebih lanjut, Radius menjelaskan penelitian ini berangkat dari persoalan lingkungan yang semakin nyata di Surabaya. Persoalan sampah dan peningkatan suhu menjadi tantangan yang tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan sejak usia dini.
Dalam konteks tersebut, pendidikan lingkungan di sekolah memiliki posisi penting. Namun, pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti pada kegiatan simbolis seperti menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, atau membuat poster lingkungan.
Diperlukan proses pembelajaran yang lebih mendalam (deep learning) agar anak tidak sekadar mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap lingkungan, tetapi juga memahami mengapa alam perlu dirawat dan bagaimana mereka secara emosional memandang hubungan manusia dengan alam.
Sekolah lintas iman di Surabaya menjadi ruang yang menarik untuk melihat persoalan tersebut. SD Muhammadiyah 4 Surabaya, SD Kristen Kalam Kudus, dan SD Pasraman Saraswati 1 Hindu Surabaya memiliki latar keagamaan yang berbeda, tetapi sama-sama dapat menjadi ruang untuk menemukan nilai ekologis yang bersifat universal.
Gagasan utama penelitian ini adalah “Alam sebagai Rumah Bersama” (Nature as a Common Home).
“Rumah bersama” tidak dimaknai semata-mata bahwa alam ada untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebaliknya, penelitian ini mencoba melihat apakah anak-anak dapat memandang bumi sebagai ruang yang dihuni bersama oleh manusia dan makhluk non-manusia. Dengan kata lain, bumi bukan hanya rumah manusia, tetapi tempat berbagi satu atap, satu udara, dan satu bumi.
“Dalam membaca karya siswa, tim peneliti akan mengelompokkan metafora ekologis ke dalam beberapa kategori, antara lain ecocentrism, religious stewardship, eco-pragmatism, dan anthropocentrism,”tegas Radius lagi.
Keempat kategori tersebut memungkinkan peneliti membaca lebih dalam bagaimana anak-anak memahami lingkungan.
Radius menegaskan bahwa keberagaman latar belakang agama justru menjadi kekuatan penelitian.
“Kami ingin melihat apakah dari berbagai tradisi dan pengalaman keagamaan yang berbeda terdapat titik temu bahwa bumi adalah rumah yang harus dijaga bersama. Perbedaannya penting untuk dipahami, tetapi titik temu ekologisnya juga penting untuk ditemukan,” katanya.
Bagi tim peneliti, karya anak-anak bukan sekadar gambar berwarna atau jawaban sederhana di atas selembar kertas. Di balik setiap metafora terdapat kemungkinan cerita tentang bagaimana generasi muda memahami alam, manusia, agama, dan kehidupan bersama.
Dari pohon, bumi, sampah, permainan, hingga metafora yang tidak terduga seperti menutup aurat dan melawan korupsi, anak-anak menunjukkan bahwa hubungan dengan lingkungan dapat dibicarakan melalui banyak bahasa.
(0) Comments