Empat Kali Gagal Seleksi TNI, Nicholas Bangkit dan Berhasil Wisuda di Umsura

  • Home -
  • News -
  • Empat Kali Gagal Seleksi TNI, Nicholas Bangkit dan Berhasil Wisuda di Umsura
Gambar Berita Empat Kali Gagal Seleksi TNI, Nicholas Bangkit dan Berhasil Wisuda di Umsura
  • 02 Nov
  • 2026

Nicholas Permata Yudhistira Wisudawan Umsura (Humas)

Empat Kali Gagal Seleksi TNI, Nicholas Bangkit dan Berhasil Wisuda di Umsura

Menyelesaikan pendidikan tinggi dengan predikat cumlaude bukan perkara mudah bagi Nicholas Permata Yudhistira. Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja sebagai penjaga warung kopi hingga pengemudi ojek.

Di tengah kesibukannya bekerja, Nicholas berhasil menuntaskan pendidikan tinggi tepat waktu. Ia menjadi salah satu wisudawan inspiratif dalam Wisuda ke-55 Umsura yang diikuti 1.211 wisudawan.

Perjalanan Nicholas meraih gelar pendidikan tinggi tidak berlangsung begitu saja. Sebelum memutuskan kuliah, ia sempat mencoba mengikuti seleksi TNI sebanyak empat kali. Namun, upayanya belum membuahkan hasil.

Alih-alih menyerah pada keadaan, Nicholas kemudian mencoba membuka warung kopi. Pekerjaan tersebut awalnya dijalani sebagai kegiatan sampingan. Namun, keinginannya untuk memiliki masa depan yang lebih baik mendorongnya mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Ia mengaku memiliki prinsip untuk tidak berhenti pada keadaan yang sedang dijalani. Dukungan sang nenek juga menjadi salah satu alasan kuat yang membuatnya mantap melanjutkan pendidikan.

“Saya punya prinsip tidak mau hanya begini-begini saja. Akhirnya nenek saya mendorong untuk kuliah,” ungkapnya.

Selama menjalani perkuliahan, Nicholas tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai penjaga warung kopi. Ia juga mengambil pekerjaan sebagai pengemudi ojek untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rutinitasnya pun tidak ringan. Ketika tidak memiliki jadwal perkuliahan, ia memanfaatkan waktu untuk menjaga warung. Sementara itu, ketika kuliah berlangsung pada pagi hari, ia tetap bekerja setelah menyelesaikan kegiatan akademiknya.

Bahkan, Nicholas kerap menjaga warung hingga pukul 00.00 atau 01.00 dini hari. Setelah itu, ia harus kembali mempersiapkan diri untuk mengikuti perkuliahan keesokan paginya.

Jarak tempat tinggalnya di kawasan Waru menuju kampus Umsura di kawasan Mulyorejo juga membutuhkan waktu perjalanan sekitar satu jam. Kondisi tersebut membuatnya harus benar-benar mengatur waktu agar pekerjaan dan tanggung jawab akademiknya tetap berjalan.

Tantangan semakin terasa ketika memasuki masa praktik rumah sakit. Sebagai mahasiswa keperawatan, Nicholas harus menjalani praktik dengan sistem pembagian tiga shift. Di tengah jadwal praktik yang berubah-ubah, ia tetap berusaha memenuhi tanggung jawab pekerjaannya di warung kopi.

Meski mengaku kelelahan, Nicholas memilih untuk tidak mudah menyerah. Baginya, bekerja sambil kuliah justru memberikan pengalaman berharga tentang kemandirian dan tanggung jawab.

“Kalau capek itu pasti. Tetapi dari capek itu kita bisa bangga karena punya penghasilan sendiri dan uang sendiri. Kalau mau apa-apa tidak harus meminta kepada orang tua. Bahkan, kita juga bisa membantu orang tua,” tuturnya.

Dalam perjalanan tersebut, sang nenek menjadi sosok yang paling berpengaruh bagi Nicholas. Selain dukungan keluarga, ia juga mengapresiasi para dosen yang dinilainya selalu memberikan dukungan dan kesabaran dalam mendampingi mahasiswa selama proses perkuliahan.

Nicholas juga mengaku pernah dipandang sebelah mata oleh sebagian orang karena pekerjaannya sebagai penjaga warung kopi dan pengemudi ojek. Namun, ia memilih tidak menjadikan pandangan tersebut sebagai penghalang untuk terus melangkah.

Baginya, pekerjaan bukan sesuatu yang perlu dipermalukan selama dilakukan dengan niat baik dan tidak menghalangi seseorang untuk berkembang.

Keberhasilan menyelesaikan pendidikan dengan predikat cumlaude menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia mengaku bersyukur karena semula tidak menyangka dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu di tengah kesibukannya bekerja.

Melalui pengalamannya, Nicholas memiliki pesan khusus bagi generasi muda, terutama mahasiswa yang harus bekerja untuk membiayai pendidikannya sendiri.

Ia mengajak anak muda agar tidak menyia-nyiakan kesempatan di usia produktif dan berani bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil.

“Jangan pernah setengah-setengah melakukan sesuatu yang sudah terlanjur kita pilih. Kalau kita pintar menghabiskan uang, kita juga harus pintar mencari uang,” pesannya.

Kisah Nicholas menjadi pengingat bahwa pendidikan dan pekerjaan bukan dua hal yang harus saling meniadakan. Dengan ketekunan, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar, keterbatasan waktu maupun kondisi ekonomi bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan masa depan.

This news is aligned with SDG number: