Foto mahasiswa baru Umsura meletakkan donasi bencana (Humas)
Di tengah bantuan bencana yang umumnya berfokus pada makanan, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya, 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengangkat kebutuhan yang kerap luput dari perhatian: pembalut, popok, dan boneka untuk perempuan serta anak-anak korban bencana.
Aksi tersebut dilakukan ribuan mahasiswa baru dalam pembukaan Mastama, Ordik, dan Expo UKM (MOX) 2026 di halaman kampus, Senin (14/9/2026). Sembari menyanyikan lagu Tanah Air, ribuan mahasiswa mengangkat boneka, pembalut, dan popok sebagai simbol dukungan terhadap perempuan dan anak yang menghadapi kerentanan dan kebutuhan spesifik dalam situasi bencana.
Tidak berhenti pada aksi simbolik, ribuan boneka, popok, dan pembalut tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Lazismu Jawa Timur.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Umsura Prof. Mundakir juga melepas mahasiswa yang akan menjalankan tugas kemanusiaan sebagai relawan di NTT selama satu bulan. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Umsura untuk tidak hanya menggalang bantuan, tetapi juga menghadirkan mahasiswa secara langsung dalam proses pendampingan masyarakat terdampak bencana.
“Di Umsura memang membuka open recruitment Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk NTT, jadi yang diberangkatkan nanti dari beragam jurusan dan tentu kegiatan ini akan dikonversikan sebagai agenda KKN,”ujar Mundakir.
Seperti yang diketahui, Bencana di NTT sendiri telah menimbulkan dampak kemanusiaan dan kerusakan fisik dalam skala besar. Berdasarkan data yang menjadi rujukan dalam penanganan bencana tersebut, korban jiwa mencapai 136 orang, dengan 88 di antaranya meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan medis. Selain korban jiwa, sebanyak 102.384 unit rumah warga terdampak dengan tingkat kerusakan berat, sedang, hingga ringan.
Mundakir mengatakan, alasan mengapa berfokus pada isu perempuan dan anak. Kata Mundakir perempuan dan anak merupakan kelompok yang menghadapi kerentanan lebih tinggi dalam situasi bencana karena memiliki kebutuhan dan risiko yang spesifik.
“Perempuan memiliki kebutuhan biologis yang tetap berlangsung dalam bencana. Menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika terjadi bencana,” ujar Mundakir.
Menurut Mundakir, kondisi darurat justru dapat membuat pemenuhan kebutuhan tersebut menjadi lebih sulit. Keterbatasan akses terhadap air bersih, toilet, ruang privat, perlengkapan kebersihan, maupun layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko kesehatan sekaligus mengurangi rasa aman dan martabat perempuan di lokasi pengungsian.
Karena itu, menurut dia, pembalut dan popok semestinya tidak ditempatkan sebagai bantuan tambahan, melainkan menjadi bagian dari kebutuhan dasar dalam respons kebencanaan.
“Pembalut dan popok seharusnya masuk dalam bantuan dasar korban bencana, termasuk di NTT. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut kesehatan, kebersihan, martabat, dan perlindungan kelompok rentan,” katanya.
Selain kebutuhan perempuan, perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak. Mundakir menjelaskan, bantuan berupa boneka tidak semata-mata dimaksudkan sebagai pemberian mainan, tetapi dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial bagi anak yang mengalami situasi traumatis akibat bencana.
Anak-anak korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Mereka juga dapat kehilangan rutinitas, lingkungan bermain, sekolah, rasa aman, bahkan benda-benda yang selama ini memberikan kenyamanan.
“Dalam konteks psikologi kebencanaan, boneka dapat menjadi bagian dari dukungan psikososial. Boneka bisa menjadi media bagi anak untuk bercerita, bermain peran, memproyeksikan rasa takut atau marah, membuat cerita tentang bencana, atau sekadar memeluk ketika merasa cemas,” jelas Mundakir.
Menurutnya, pendekatan bantuan kebencanaan perlu melihat korban bukan hanya dari kebutuhan yang bersifat umum, tetapi juga berdasarkan kebutuhan spesifik masing-masing kelompok.
Perempuan, anak-anak, bayi, dan kelompok rentan lainnya dapat menghadapi persoalan yang berbeda selama berada di lokasi bencana maupun pengungsian. Karena itu, bantuan yang diberikan perlu disusun berdasarkan kebutuhan mereka, bukan semata-mata berdasarkan jenis barang yang paling mudah dikumpulkan.
Mundakir menegaskan, perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi bagian dari setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari kondisi darurat hingga proses pemulihan.
“Dalam situasi bencana, perempuan dan anak merupakan kelompok rentan yang harus mendapatkan perhatian khusus dalam setiap tahapan penanganan agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran,”pungkasnya.
(0) Comments