Monthita Boonmaloet Mahasiswa S2 Magister Hukum Ekonomi Syariah (Humas)
Tidak pernah terbayangkan oleh Monthita Boonmaloet bahwa perjalanannya menempuh pendidikan di Indonesia akan membawanya menjadi salah satu lulusan terbaik. Mahasiswi asal Bangkok, Thailand, itu berhasil menyelesaikan studi Magister Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97.
Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang tentang keberanian meninggalkan negara asal, menghadapi keterbatasan bahasa, melewati pandemi COVID-19, hingga belajar menjalani kehidupan secara mandiri di negeri orang.
Monthita pertama kali datang ke Indonesia pada 2019. Saat itu, kemampuan bahasa Indonesianya masih sangat terbatas. Ia bahkan mengaku belum bisa berbahasa Indonesia sama sekali.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terlebih ia harus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan kehidupan sosial yang berbeda dari negara asalnya.
“Ketika pertama kali datang ke Indonesia, kemampuan bahasa Indonesia saya benar-benar masih nol. Jujur, itu merupakan hal yang sangat sulit bagi saya. Namun, saya tidak pernah menyerah karena memiliki keinginan kuat untuk bisa menguasai bahasa Indonesia dan menyelesaikan pendidikan di sini,” ungkapnya.
Pada masa awal kedatangannya, Monthita mengaku belum banyak menggunakan bahasa Indonesia karena masih terbantu oleh keberadaan kakak tingkat dan teman-teman asal Thailand. Situasi berubah ketika pandemi COVID-19 melanda. Ia harus kembali ke Thailand dan melanjutkan perkuliahan secara daring.
Namun, kepulangannya ke Thailand tidak membuat Monthita berhenti berusaha. Ia justru memanfaatkan waktu tersebut untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia sebagai bekal ketika kembali melanjutkan pendidikan di Surabaya.
Pada 2021, Monthita kembali ke Indonesia dengan tekad yang lebih kuat. Kali ini, ia ingin benar-benar menguasai bahasa Indonesia dan menjalani kehidupan secara mandiri.
Usahanya membuahkan hasil. Hanya dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan, ia mulai mampu berbicara dan memahami bahasa Indonesia. Ia juga mulai berani bepergian sendiri, berwisata, hingga menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus selalu bergantung pada orang lain.
Setelah pandemi, situasi kehidupan Monthita di Surabaya semakin menantang. Saat itu, hanya ada dua mahasiswa asal Thailand yang tinggal di Surabaya dan ia menjadi satu-satunya perempuan.
“Menurut saya, masa yang paling sulit adalah setelah pandemi COVID-19, ketika saya harus menjalani kehidupan sebagai satu-satunya mahasiswi perempuan asal Thailand di Surabaya. Namun, justru masa itulah yang menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya belajar bangkit dan mengubah diri menjadi lebih mandiri serta percaya diri,” tuturnya.
Perjalanan akademik Monthita tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui pernah mengalami masa ketika kesulitan memahami materi perkuliahan hingga kehilangan semangat untuk melanjutkan studi.
Masa pandemi menjadi salah satu periode terberat. Perkuliahan yang berlangsung secara daring sempat membuatnya mempertanyakan manfaat pendidikan yang sedang ditempuh. Bahkan, ia pernah berpikir untuk berhenti dan melanjutkan pendidikan di Thailand.
Namun, ada satu hal yang membuatnya memilih bertahan. Ia melihat sejumlah mahasiswa Thailand yang datang bersamanya pada angkatan yang sama mulai memutuskan untuk berhenti kuliah.
Situasi itu justru menumbuhkan tekad dalam dirinya. Monthita ingin menjadi salah satu mahasiswa dari angkatannya yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.
“Saat itu, saya berpikir bahwa saya tidak boleh menyerah. Saya ingin menjadi satu-satunya orang dari angkatan saya yang berhasil menyelesaikan pendidikan sampai lulus. Sederhana saja, saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya juga bisa menyelesaikannya,” kenangnya.
Tekad tersebut menjadi salah satu motivasi terbesar yang membuatnya terus melangkah. Setelah melalui berbagai tantangan, Monthita berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2024.
Kesempatan melanjutkan studi ke jenjang magister kemudian kembali terbuka. Ia mengaku tidak ragu menerima kesempatan dari Umsura untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Keputusan itu juga didasari pertimbangan akademik. Saat menempuh pendidikan sarjana, Monthita mengambil Program Studi Hukum Keluarga. Sementara pada jenjang magister, ia memilih Hukum Ekonomi Syariah.
Menurutnya, kedua bidang tersebut masih belum banyak tersedia di Thailand. Ia juga tertarik mempelajari sistem hukum di Indonesia yang menerapkan hukum Islam berdampingan dengan hukum nasional.
“Saya yakin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama belajar di Indonesia akan sangat bermanfaat bagi saya di masa depan,” ujarnya.
Bagi Monthita, keberhasilan menyelesaikan pendidikan di Indonesia bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi. Dukungan dosen, teman kuliah, dan lingkungan kampus turut menjadi bagian penting dalam perjalanannya.
Ia mengaku para dosen selalu memberikan perhatian, motivasi, serta bantuan ketika menghadapi kesulitan selama perkuliahan. Teman-teman sekelas juga banyak membantunya, mulai dari berbagi informasi, menjelaskan materi, hingga berdiskusi mengenai tugas akademik.
Salah satu pihak yang paling berkesan baginya adalah Kantor Urusan Internasional atau International Office Umsura.
Monthita menggambarkan kantor tersebut sebagai tempat untuk beristirahat sejenak dari berbagai kelelahan selama menjalani kehidupan akademik. Baginya, International Office bukan sekadar tempat mengurus administrasi mahasiswa asing, melainkan ruang untuk menyampaikan persoalan dan mendapatkan dukungan.
“Selama saya berani menyampaikan masalah yang sedang dihadapi, pihak kantor, terutama kepala kantor, akan berusaha memberikan bantuan dan solusi dengan sangat baik,” ungkapnya.
Selama tinggal di Indonesia, Monthita juga mendapatkan pengalaman budaya yang memperkaya cara pandangnya. Ia mengaku salah satu hal yang paling membuatnya nyaman adalah kemudahan menemukan makanan halal.
Berbeda dengan Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, mencari makanan halal di sejumlah tempat di negara asalnya membutuhkan perhatian lebih. Sementara di Indonesia, ia merasa lebih mudah menemukan makanan halal, bahkan di warung-warung sederhana.
Lebih dari sekadar pengalaman kuliner dan kehidupan sehari-hari, tinggal di Indonesia sejak usia 19 tahun telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Ia merasa menjadi pribadi yang lebih dewasa, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu memahami berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
“Perjalanan selama bertahun-tahun di Indonesia bukan hanya tentang mendapatkan gelar pendidikan, tetapi juga tentang proses mengenal diri sendiri, mendewasakan pola pikir, dan belajar memahami kehidupan,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan magister dan meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,97, Monthita berencana kembali ke Thailand untuk berkumpul bersama keluarga dan mulai bekerja.
Ia berharap dapat bekerja di perusahaan Thailand yang juga memiliki basis atau cabang di Indonesia. Dengan begitu, ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Indonesia dapat memberikan kontribusi bagi kedua negara.
Meski keluarganya tidak dapat hadir secara langsung dalam prosesi wisuda, Monthita yakin pencapaian tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Ia mengaku tidak pernah mendapatkan tuntutan khusus dari keluarga untuk meraih penghargaan akademik. Karena itu, predikat wisudawan terbaik yang diperolehnya menjadi hadiah bagi dirinya sendiri atas seluruh perjuangan yang telah dilalui.
“Bagi saya, penghargaan ini seperti akhir dari sebuah penantian panjang dalam perjalanan pendidikan. Saya menganggap pencapaian ini sebagai hadiah untuk diri sendiri atas segala usaha dan perjuangan selama ini,” ungkapnya.
Kepada mahasiswa internasional maupun generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Monthita berpesan agar tidak takut menghadapi perbedaan dan tantangan.
Menurutnya, keberanian untuk membuka hati dan pikiran menjadi langkah awal untuk memulai perjalanan di lingkungan yang baru.
“Jangan takut untuk mencoba, karena tidak ada sesuatu yang terlalu sulit selama kita mau berusaha dan percaya pada kemampuan diri sendiri,” pesannya.
Perjalanan Monthita membuktikan bahwa pendidikan di luar negeri bukan hanya tentang mengejar gelar akademik. Lebih dari itu, ada proses panjang untuk belajar beradaptasi, mengenal diri sendiri, dan menemukan kekuatan untuk bertahan ketika keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
(0) Comments