Alfirza Candra Rachmana (Humas Umsura)
Di tengah pesatnya perkembangan media sosial, profesi content creator dan influencer kini menjadi salah satu peluang yang menjanjikan bagi generasi muda. Namun tidak banyak yang mampu menjadikannya sebagai jalan untuk membiayai pendidikan hingga menyelesaikan kuliah. Kisah itu dialami oleh Alfirza Candra Rachmana, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang berhasil meraih gelar sarjana sambil membangun karier sebagai influencer dan content creator.
Perjalanan Firza di dunia digital tidak dimulai dari keinginan menjadi selebritas media sosial. Ia justru mengawali kariernya sebagai fotografer yang aktif mendokumentasikan berbagai kegiatan dan event. Dari dunia fotografi tersebut, ia mulai melihat perubahan perilaku masyarakat yang semakin dekat dengan media sosial.
"Awalnya saya memang terjun di dunia fotografi. Setelah mengamati perkembangan media sosial, saya melihat peluang besar di sana. Meski persaingannya sangat banyak, saya mencoba membuat konten secara iseng sambil menerapkan ilmu digital marketing yang saya pelajari di kampus," ujarnya Senin (1/6/27)
Siapa sangka, konten yang awalnya dibuat karena rasa penasaran justru mendapat respons positif dari publik. Bahkan, jangkauan kontennya tidak hanya dinikmati oleh para pengikutnya, tetapi juga oleh pengguna media sosial yang lebih luas.
Firza mulai serius menekuni dunia content creator pada 2024. Namun, personal branding dan namanya mulai dikenal publik melalui media sosial pada 2025. Instagram menjadi platform utama yang membesarkan namanya, kemudian disusul TikTok yang semakin memperluas jangkauan audiensnya.
Menurut Firza, ada tiga alasan utama yang membuatnya memilih profesi tersebut. Pertama, membangun personal branding, kedua memperluas relasi, dan ketiga membuka peluang kerja sama dengan berbagai brand maupun produk.
Konten-konten awal yang ia buat cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia mengangkat sudut pandang fotografer dalam menghadapi pelanggan, hingga membahas budaya dan kebiasaan masyarakat Surabaya Utara.
"Konten yang saya buat berangkat dari pengalaman dan realitas di sekitar saya. Saya ingin menghadirkan sesuatu yang dekat dengan masyarakat," katanya.
Kesuksesan Firza sebagai content creator tidak datang tanpa tantangan. Ia mengaku kerap menerima cibiran dan komentar negatif dari sejumlah pihak yang memandang profesi influencer bukan pekerjaan yang serius.
Namun, ia memilih untuk tidak membalas kritik dengan cara yang sama. Baginya, karya menjadi jawaban terbaik.
"Saya tidak perlu membalas dengan komentar negatif. Cukup menunjukkan karya yang positif, unik, dan bermanfaat bagi masyarakat. Selama masih dalam batas etika dan tidak menyinggung SARA, saya tetap berkarya," jelasnya.
Di balik kesibukannya membuat konten, Firza juga harus menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan proses kreatif menghasilkan ide konten.
Bahkan, ia pernah mengalami benturan antara jadwal kuliah dan pekerjaan sebagai content creator. Kondisi tersebut sempat membuat masa studinya mundur satu semester karena harus menuntaskan tugas akhir.
"Saya pernah terlambat lulus satu semester. Dari situ saya belajar bahwa pendidikan tetap harus menjadi prioritas utama. Saat mengerjakan skripsi, saya rela mengurangi beberapa pekerjaan agar bisa fokus menyelesaikan kuliah," ungkapnya.
Untuk menjaga keseimbangan, Firza menerapkan manajemen waktu yang ketat dengan membuat jadwal pribadi dan menentukan skala prioritas. Ia menilai kemampuan mengambil keputusan dan menentukan prioritas merupakan kunci agar pendidikan dan karier dapat berjalan beriringan.
Dukungan dari keluarga menjadi energi terbesar dalam perjalanan tersebut. Selain orang tua, ia juga mendapatkan dukungan dari lingkungan kampus, rekan sesama content creator, hingga para pengikut yang menikmati karya-karyanya.
Selama kuliah, Firza tidak hanya aktif sebagai content creator. Berdasarkan riwayat pengalamannya, ia pernah menjadi fotografer freelance di berbagai kegiatan dan perusahaan, dokumentator event, videografer untuk proyek prewedding di Kuala Lumpur, Malaysia, serta aktif dalam organisasi kemahasiswaan.
Pengalaman tersebut semakin memperkaya kompetensinya sebagai kreator digital sekaligus mahasiswa manajemen. Ia mengaku banyak menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, khususnya terkait strategi pemasaran digital dan pengelolaan konten.
"Saya merasa beruntung mendapatkan mata kuliah yang berkaitan dengan strategi digital marketing. Ilmu itu sangat membantu dalam membangun konten dan personal branding di media sosial," tuturnya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Firza memiliki mimpi yang lebih besar. Ia ingin membangun studio foto profesional, vendor dokumentasi, hingga mendirikan digital agency yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Tak hanya itu, ia juga memiliki target untuk terus menjaga reputasi personal branding yang telah dibangun selama ini serta membahagiakan kedua orang tuanya dengan memberangkatkan mereka ke Tanah Suci.
Saat ini, ia sedang menabung untuk mewujudkan impian mendirikan studio foto dan vendor dokumentasi profesional, sembari tetap konsisten berkarya di media sosial.
Bagi mahasiswa yang sedang berjuang membiayai kuliah secara mandiri, Firza berpesan agar tidak mudah menyerah menghadapi berbagai kesulitan.
"Capek itu wajar. Yang penting tetap semangat dan membuat orang tua bangga karena kita berusaha tidak merepotkan mereka," pesannya.
Ia juga mengingatkan anak muda yang ingin terjun menjadi content creator untuk memiliki mental yang kuat, kreatif, inovatif, dan konsisten dalam berkarya. Menurutnya, kesuksesan di dunia digital tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas dan kebermanfaatan konten.
Menutup kisahnya, Firza menyampaikan satu prinsip yang selalu ia pegang selama menjalani perjalanan dari content creator hingga meraih gelar sarjana.
"Kuliah adalah tempat menimba ilmu, mencari relasi, dan membentuk pola pikir. Ketika pendidikan dan karier sama-sama dijalani dengan prioritas yang tepat, keduanya bisa tumbuh bersama,”pungkasnya.
(0) Comments