Cerita Haru Mahasiswa UMSURA Asal Yaman, Gagal Mudik Lebaran Akibat Perang Iran-Israel

  • Home -
  • News -
  • Cerita Haru Mahasiswa UMSURA Asal Yaman, Gagal Mudik Lebaran Akibat Perang Iran-Israel
Gambar Berita Cerita Haru Mahasiswa UMSURA Asal Yaman, Gagal Mudik Lebaran Akibat Perang Iran-Israel
  • 15 Mar
  • 2026

Mahasiswa asal Yaman yang menemph pendidikan di UMSURA (Humas)

Cerita Haru Mahasiswa UMSURA Asal Yaman, Gagal Mudik Lebaran Akibat Perang Iran-Israel

Sejumlah mahasiswa asing asal Yaman yang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) dipastikan tidak bisa mudik atau pulang kampung untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Mereka terpaksa tetap tinggal di Indonesia karena situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang memanas akibat konflik perang antara Iran dan Israel yang mengakibatkan banyak penerbangan ditutup. 

Konflik tersebut berdampak luas terhadap jalur penerbangan internasional di kawasan Timur Tengah, salah satunya di Yaman. Sejumlah rute penerbangan terpaksa dibatalkan atau dialihkan karena kondisi keamanan dan penutupan ruang udara di beberapa wilayah. 

Akibatnya, rute penerbangan menuju Yaman menjadi sangat terbatas bahkan banyak yang ditutup sementara. Jika ada pun, harga tiket bisa melambung hingga 4 kali lipat dari harga normal. 

Salah satu mahasiswa asal Yaman yang terdampak adalah Khusay. Ia mengaku terpaksa tak bisa pulang ke Yaman karena perang Iran-Israel yang sampai saat ini masih memanas. Padahal, sejak jauh-jauh hari ia sudah merencanakan pulang kampung ke Yaman di momen libur Idul Fitri 2026. 

"Alasan pertama tidak pulang ke negara saya, Yaman, adalah perang. Jadi, selama waktu ini perang mulai pecah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Jadi, kami tidak bisa kembali ke Yaman karena pertama tiket pesawat harganya sangat mahal dan tidak ada penerbangan terdekat untuk kembali ke Yaman," kata mahasiswa Fakultas Teknik Umsura tersebut saat ditemui, Minggu (15/3/2026). 

Padahal menurut Khusay, ia bisa saja pulang melalui Mesir karena keluarga besarnya juga berada di Mesir. Namun sang ibu menyarankan agar tetap tinggal di Indonesia demi alasan keamanan. 

"Tentang keluarga saya, mereka tidak tinggal di Yaman. Kami tinggal di Mesir. Tapi ibu saya sedang di Yaman sekarang. Beliau bahkan saat ini sedang di Yaman saat perang dimulai. Jadi situasinya memang sulit," ujarnya. 

Mahasiswa asal Yaman lainnya, Abdurrahman Khalid tak berbeda jauh, ia harus mengubur mimpinya bisa berkumpul dengan keluarganya di kawasan Hadramaut, Yaman akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang makin memanas. Meskipun negaranya tak terlibat perang terbuka dengan Israel atau pun Iran, namun sangat berimbas pada stabilitas keamanan di negaranya. 

"Selama masa (perang) ini, tiket untuk kembali ke negara saya naik sekitar tiga atau empat kali lipat. (Tak hanya negara Yaman) semua bandara mungkin bandara utama seperti di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar, semuanya tutup karena perang melawan Iran dan tentu saja ada perang melawan negara-negara Teluk. 

Khalid juga mengatakan, ia bisa saja pulang ke Jeddah, Arab Saudi menemui keluarga besarnya, namun selain alasan keamanan dan harga tiket pesawat yang melambung tinggi, durasi libur kuliah yang dianggapnya pendek juga menjadi salah satu alasan. 

"Saya bisa kembali ke Saudi langsung ke Jeddah karena bandara Jeddah masih buka. Tapi saat ini saya masih ada banyak kelas, saya tidak bisa pulang. Intinya ada banyak alasan yang melatarbelakanginya tak pulang, ada perang, harga tiket mahal dan durasi libur tidak panjang. Itu alasan saya," imbuh mahasiswa Fakultas Teknik Umsura tersebut. 

Kini, di momen Idul Fitri 2026 yang tinggal menunggu hari, Khusay dan Abdurrahman Khalid hanya bisa tinggal dan merayakan lebaran Idul Fitri bersama 4 mahasiswa asal Yaman lainnya, beserta belasan mahasiswa asal negara lainnya di asrama mahasiswa asing kawasan Gunung Anyar Surabaya.