320 Peserta Ikuti Munas Tarjih XXXIII di Umsura, Muhammadiyah Bahas Lima Agenda Penting Keumatan

  • Home -
  • News -
  • 320 Peserta Ikuti Munas Tarjih XXXIII di Umsura, Muhammadiyah Bahas Lima Agenda Penting Keumatan
Gambar Berita 320 Peserta Ikuti Munas Tarjih XXXIII di Umsura, Muhammadiyah Bahas Lima Agenda Penting Keumatan
  • 05 Nov
  • 2026

Peserta Munas Tarjih di Umsura (Humas)

320 Peserta Ikuti Munas Tarjih XXXIII di Umsura, Muhammadiyah Bahas Lima Agenda Penting Keumatan

Lima agenda strategis Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII Muhammadiyah menjadi ikhtiar menjawab persoalan keagamaan, sosial, dan kebangsaan. Forum nasional ini sekaligus menghidupkan kembali legasi KH Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang meletakkan fondasi gerakan tarjih.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada Pembukaan Munas Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026). 

Menurut Ustadi, penyelenggaraan Munas Tarjih di Surabaya memiliki makna historis. Kota ini merupakan tempat kelahiran KH Mas Mansur, Pahlawan Nasional yang tercatat sebagai Ketua Majelis Tarjih pertama pada 1927 sekaligus salah satu tokoh penting dalam perkembangan tarjih Muhammadiyah.

Pemilihan Surabaya menjadi momentum untuk menyambungkan perjuangan Mas Mansur dengan perkembangan pemikiran Muhammadiyah masa kini. Semangat tokoh tersebut diharapkan mewarnai pembahasan berbagai persoalan umat dan bangsa.

“Isu-isu yang berkembang akan kita sambungkan dengan spirit KH Mas Mansur yang luar biasa menggerakkan Muhammadiyah, menggerakkan bangsa untuk terus berkembang maju sebagai bangsa yang bermartabat dan terhormat,” ungkapnya. 

Munas Tarjih XXXIII membahas lima agenda utama. Pertama, Fikih Lanjut Usia, yang mengkaji kehidupan kelompok lansia melalui perspektif keislaman yang lebih komprehensif. Pembahasan ini melanjutkan kajian tentang aspek spiritualitas dan agama yang sebelumnya disampaikan Agus Taufiqurrahman.

Kedua, Fikih Kedaulatan Pangan. Ustadi menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia perlu diimbangi perspektif dan kebijakan pangan yang kuat. Kedaulatan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga kemampuan bangsa membangun ketahanan pangan.

“Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tetapi dalam konteks pangan kita perlu perspektif yang lebih kaya lagi supaya kita punya kekuatan dan ketahanan pangan yang luar biasa,” jelasnya.

Agenda ketiga, Risalah Akidah Islam, diarahkan untuk merumuskan pemahaman akidah Muhammadiyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah serta mencerminkan karakter Islam Berkemajuan. 

Ustadi menegaskan Muhammadiyah perlu memiliki rumusan akidah yang menunjukkan kekhasan pandangannya. Rumusan tersebut diharapkan menjadi landasan pemahaman keislaman yang kokoh sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

Keempat, Risalah Akhlak Islam Praktis, merupakan pengembangan dari Risalah Akhlak Islam Filosofis. Rumusan ini diharapkan menerjemahkan prinsip-prinsip akhlak Islam ke dalam kehidupan sehari-hari, sesuai orientasi Islam Berkemajuan.

Kelima, pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Salah satu persoalan yang dibahas ialah hukum taswib, yakni bacaan al-shalātu khairum minan naum dalam azan Subuh.

Pembahasan lima agenda tersebut menjadi bagian dari upaya Majelis Tarjih dan Tajdid mengembangkan produk pemikiran keislaman yang tetap relevan dengan kebutuhan umat.

Selain sidang komisi, Munas Tarjih XXXIII menghadirkan seminar tentang kedaulatan pangan dan legasi KH Mas Mansur dalam bidang tarjih, kebangsaan, sosial, serta budaya.

Peserta juga mengikuti Muhammadiyah Heritage Walk, napak tilas perjalanan perjuangan KH Mas Mansur di Surabaya

Rute dimulai dari Masjid KH Mas Mansur, dilanjutkan ke rumah beliau, kemudian berakhir di makam KH Mas Mansur.

Ustadi menjelaskan, kunjungan ke makam tersebut menjadi kesempatan untuk mendoakan sekaligus mengambil inspirasi dari gagasan dan perjuangan tokoh Muhammadiyah itu.

Munas Tarjih XXXIII diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah peserta dari luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, dan Kamboja, juga hadir.

Para peserta akan terlibat dalam pembahasan melalui lima komisi sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan.

Ustadi berharap Munas Tarjih XXXIII menghasilkan keputusan dan rumusan pemikiran yang memberikan kontribusi nyata bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

“Semoga Munas Tarjih ke-33 ini menghasilkan sesuatu yang luar biasa, memberikan sumbangan kepada umat Islam khususnya dan kepada bangsa Indonesia pada umumnya. Semoga Muhammadiyah berdiri tegak memandu perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang unggul, bermartabat, dan hebat untuk masa yang akan datang,” pungkasnya. 

This news is aligned with SDG number: