istimewa
Informasi mengenai ratusan anak dan remaja di Sidoarjo, Jawa Timur, yang terpapar HIV/AIDS baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam unggahan yang beredar, disebutkan sebanyak 522 anak dan remaja terpapar HIV/AIDS.
Menanggapi informasi tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melalui rilis resminya pada Sabtu (25/7) menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus yang ditemukan berkaitan dengan perluasan layanan deteksi dini. Karena itu, bertambahnya temuan kasus tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai peningkatan penularan baru.
Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, mengingatkan masyarakat agar tidak merespons temuan tersebut dengan kepanikan, terlebih dengan memberikan stigma negatif kepada Orang dengan HIV (ODHIV).
Menurutnya, HIV masih kerap disalahpahami karena rendahnya literasi masyarakat mengenai cara penularannya. Padahal, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari.
“HIV tidak menular hanya karena kita berjabat tangan, makan bersama, atau tinggal serumah. Penularannya sangat spesifik, antara lain melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi,” ujar Vella, dosen Teknologi Laboratorium Medis Umsura, Selasa (28/7/2026).
Vella menilai stigma dan rasa takut dikucilkan justru menjadi salah satu tantangan besar dalam penanganan HIV. Ketika ODHIV terus mendapatkan stigma, masyarakat yang memiliki faktor risiko dapat merasa takut untuk melakukan skrining atau tes HIV.
Kondisi tersebut berpotensi membuat infeksi terlambat diketahui dan ditangani. Dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada anak.
“Karena itu, yang perlu kita bangun bukan ketakutan terhadap ODHIV, melainkan kesadaran untuk melakukan deteksi dini dan mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV,” tegasnya.
Ia menjelaskan, HIV saat ini dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV). Dengan terapi yang dilakukan secara rutin dan sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga, risiko komplikasi berkurang, dan kualitas serta harapan hidup ODHIV dapat meningkat.
Vella menjelaskan, kasus HIV pada anak usia PAUD dan TK perlu dilihat dari kemungkinan penularan vertikal, yakni dari ibu kepada anak selama kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.
Risiko penularan tersebut dapat ditekan melalui deteksi dini, pemeriksaan HIV pada ibu hamil, serta pengobatan dan pendampingan medis yang tepat.
Karena itu, menurut Vella, skrining kesehatan sebelum menikah maupun pemeriksaan selama kehamilan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Pemeriksaan tersebut memungkinkan faktor risiko diketahui lebih awal sehingga intervensi dapat segera dilakukan.
Sementara itu, temuan HIV pada kelompok usia remaja juga perlu menjadi perhatian serius. Menurut Vella, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan berbasis informasi kesehatan yang tepat.
“Generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, serta bagaimana melindungi kesehatan dirinya dan orang lain,” katanya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan juga perlu melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan lingkungan sosial. Edukasi yang tepat dinilai penting agar remaja tidak mencari informasi dari sumber yang keliru sekaligus memahami konsekuensi dari perilaku berisiko.
Menurut Vella, temuan kasus HIV di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, layanan konseling, serta tes HIV secara sukarela dan proaktif.
“Memeriksakan kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan. Ini merupakan langkah preventif untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing dan mempersiapkan keluarga yang sehat,” ujarnya.
Vella menegaskan, penanganan HIV membutuhkan dua hal yang berjalan beriringan, yakni memperluas deteksi dan pengobatan sekaligus menghilangkan stigma terhadap ODHIV.
“Memastikan kesehatan sebelum menikah penting sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan keluarga dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan sejahtera,” pungkas Vella.
(0) Comments