istimewa
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencetak rekor terlemah. Pada Jumat (15/5/2026), kurs dolar AS menyentuh angka Rp17.600. Kondisi ini membuat masyarakat mulai bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar memprediksi harga kebutuhan sehari-hari akan ikut terdampak.
Pakar Ekonomi Fatkur Huda dari Universitas Muhammadiyah Surabaya mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah memang tidak selalu langsung dirasakan masyarakat karena transaksi sehari-hari tetap menggunakan rupiah, bukan dolar AS. Namun, masyarakat, terutama di pedesaan, tetap tidak bisa lepas dari dampaknya.
“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Fatkur, dampak paling nyata biasanya dirasakan kelompok masyarakat bawah seperti petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pekerja informal. Kenaikan harga pupuk, pakan ternak, BBM, obat-obatan, hingga biaya transportasi dinilai akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi.
Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut naik, sementara pendapatan masyarakat desa belum tentu mengalami peningkatan.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil,” tambahnya.
Fatkur menegaskan, pelemahan rupiah tidak bisa dipandang sekadar isu pasar keuangan atau persoalan dolar semata. Meski masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, dampak ekonominya tetap menjalar hingga ke tingkat bawah melalui inflasi dan kenaikan harga barang.
“Maka, stabilitas rupiah tetap penting untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan pelaku ekonomi kecil di pedesaan,” pungkasnya.
(0) Comments