Istimewa
Menjelang akhir Ramadan tahun ini, suasana masjid di berbagai daerah tampak berbeda. Saf-saf masjid justru banyak dipenuhi oleh anak muda dari generasi Z yang melaksanakan i’tikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak karena selama ini generasi muda kerap diasosiasikan dengan dunia digital dan gaya hidup yang lebih individual.
Dosen Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya, M. Febriyanto Firman Wijaya, menilai fenomena tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai peningkatan semangat ibadah musiman. Menurutnya, ada perubahan cara generasi muda mencari ruang untuk mengekspresikan diri dan membangun kebersamaan.
Ia menjelaskan bahwa di tengah kehidupan kota yang serba cepat dan cenderung konsumtif, banyak ruang pertemuan publik yang kini menuntut aktivitas ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, masjid menjadi tempat berkumpul yang terbuka bagi siapa saja tanpa tekanan sosial maupun finansial.
“Bagi Gen Z yang sehari-hari dihadapkan pada tuntutan produktivitas, budaya hustle, hingga kekhawatiran ekonomi, masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi ruang yang nyaman dan setara bagi semua orang,” ujar Riyan, Kamis (19/3/2026).
Di ruang tersebut, perbedaan status sosial dan ekonomi menjadi tidak terlihat. Setiap orang datang dengan tujuan yang sama, yakni beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konteks ini, i’tikaf juga bisa dipahami sebagai cara sederhana generasi muda untuk mengambil jeda dari tekanan kehidupan modern.
Selain itu, fenomena ini juga berkaitan dengan kelelahan digital yang banyak dialami generasi muda.
“Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, Gen Z sering kali berada dalam arus informasi yang sangat cepat dan terus-menerus,”imbuhnya.
Ritual i’tikaf yang identik dengan suasana tenang, doa, serta refleksi diri memberikan kesempatan bagi mereka untuk sejenak menjauh dari hiruk pikuk dunia digital. Aktivitas tersebut dinilai mampu memberikan ketenangan sekaligus menjadi ruang untuk menata kembali kondisi psikologis.
Lebih lanjut kata Riyan, faktor lain yang turut memengaruhi adalah kebutuhan akan kebersamaan. Meski hidup di era yang sangat terkoneksi secara digital, banyak anak muda justru merasakan kesepian dalam kehidupan nyata. Kegiatan i’tikaf yang dilakukan bersama-sama di masjid menciptakan rasa kebersamaan, seperti berbagi sahur, beribadah bersama, hingga berbincang setelah salat malam.
Pengalaman tersebut membangun kedekatan sosial yang lebih nyata dibandingkan interaksi di media sosial.
Di sisi lain, media sosial juga turut berperan dalam menyebarkan tren i’tikaf di kalangan anak muda. Berbagai konten mengenai kegiatan i’tikaf membuat banyak orang tertarik untuk ikut merasakannya. Namun, menurut Febriyanto, fenomena ini tidak bisa dianggap sekadar ikut-ikutan.
Ia menilai, keputusan anak muda untuk bertahan berhari-hari di masjid menunjukkan adanya kebutuhan yang lebih dalam, yakni mencari ketenangan, komunitas, dan ruang yang terasa lebih autentik.
Karena itu, meningkatnya kehadiran Gen Z di masjid pada akhir Ramadan dapat dibaca sebagai sinyal sosial.
“Selain sebagai bentuk kesalehan, fenomena ini juga menunjukkan bahwa generasi muda sedang mencari ruang aman dan kebersamaan yang selama ini sulit mereka temukan dalam kehidupan modern,”pungkasnya.
(0) Comments