Greenpeace Guncang Kesadaran Publik, Pakar Media Umsura Ulas Soal Visual Shock di Ruang Publik

  • Home -
  • Article -
  • Greenpeace Guncang Kesadaran Publik, Pakar Media Umsura Ulas Soal Visual Shock di Ruang Publik
Gambar Artikel Greenpeace Guncang Kesadaran Publik, Pakar Media Umsura Ulas Soal Visual Shock di Ruang Publik
  • 21 Oct
  • 2026

Radius Setiyawan Pakar Media(Humas)

Greenpeace Guncang Kesadaran Publik, Pakar Media Umsura Ulas Soal Visual Shock di Ruang Publik

Aksi Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Selasa (20/10/2026), menunjukkan bagaimana pesan visual dapat menarik perhatian publik terhadap krisis lingkungan.

Dua spanduk yang dibentangkan membawa pesan, antara lain, “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”. Foto dan video aksi tersebut kemudian beredar di media sosial.

Pakar media dan budaya Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai kekuatan aksi tersebut terletak pada kemampuannya mengemas kritik lingkungan menjadi peristiwa visual yang mudah menarik perhatian dan memicu percakapan publik.

“Persoalan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui laporan, data, atau pernyataan resmi. Di tengah banjir informasi, sebuah pesan harus mampu merebut perhatian agar orang berhenti sejenak, melihat, lalu mempertanyakan persoalan yang sebelumnya mungkin dianggap biasa,” ujar Radius, Rabu (21/10/26)

Menurut dia, pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi aksi turut memperkuat pesan yang disampaikan. Kawasan tersebut identik dengan aktivitas ekonomi dan citra modernitas Jakarta. Kehadiran spanduk kritik lingkungan di lokasi ikonik itu menghadirkan kontras antara wajah kota modern dan krisis ekologis yang membutuhkan perhatian.

Radius menyebut strategi tersebut sebagai visual shock, yakni efek keterkejutan ketika masyarakat melihat sesuatu yang tidak biasa.

“Orang yang semula hanya melihat Bundaran HI sebagai ruang lalu lintas tiba-tiba dihadapkan pada pesan tentang krisis iklim dan beban hidup masyarakat. Gambar dan video yang beredar di media sosial kemudian membuat pesan itu menjangkau publik yang lebih luas,” jelasnya.

Radius menjelaskan, aksi tersebut juga memperlihatkan bagaimana aktivisme lingkungan dapat mengubah demonstrasi menjadi peristiwa yang menarik perhatian media. Lokasi yang dikenal masyarakat, pesan yang ringkas, serta persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat aksi lebih mudah diberitakan dan dibagikan.

Menurut dia, isu lingkungan akan lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan persoalan konkret, seperti kesehatan, biaya hidup, dan sumber penghidupan masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, bukan hanya persoalan hutan yang terbakar. Dampaknya juga mencakup paparan asap, gangguan aktivitas ekonomi, kerusakan ekosistem, serta kehidupan masyarakat yang terdampak.

“Ketika isu lingkungan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki alasan yang lebih konkret untuk terlibat. Krisis ekologis bukan lagi persoalan yang jauh di dalam hutan, melainkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup manusia,” katanya.

Meski demikian, Radius mengingatkan bahwa tingginya perhatian publik tidak otomatis meningkatkan pemahaman terhadap persoalan lingkungan. Media perlu melanjutkan pemberitaan dengan mengulas akar masalah, tata kelola lahan, dampak terhadap masyarakat, dan upaya pencegahan karhutla.

Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Radius menggunakan pemikiran Guy Debord dalam buku The Society of the Spectacle. Teori ini membahas bagaimana citra dan tontonan menjadi bagian penting dalam cara masyarakat memahami realitas sosial.

Dalam konteks aksi Greenpeace, kritik lingkungan dihadirkan melalui gambar yang kuat sehingga persoalan yang sebelumnya terasa jauh menjadi terlihat dan diperbincangkan.

Namun, Radius menegaskan bahwa keberhasilan aksi tidak cukup diukur dari jumlah perhatian atau viralitas di media sosial. Perhatian seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.

“Jangan sampai kita hanya mengingat gambar aktivis di atas monumen, tetapi melupakan hutan yang terbakar dan masyarakat yang menanggung dampaknya. Perhatian publik seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan, bukan pengganti pemahaman itu sendiri,” pungkasnya.

This article is aligned with SDG number: