Dosen FK UMSURA Jelaskan Konsumsi Mi Instan dan Soda Terkait Kasus Bocah SD di Pasuruan

  • Home -
  • Article -
  • Dosen FK UMSURA Jelaskan Konsumsi Mi Instan dan Soda Terkait Kasus Bocah SD di Pasuruan
Gambar Artikel Dosen FK UMSURA Jelaskan Konsumsi Mi Instan dan Soda Terkait Kasus Bocah SD di Pasuruan
  • 11 May
  • 2026

Istimewa

Dosen FK UMSURA Jelaskan Konsumsi Mi Instan dan Soda Terkait Kasus Bocah SD di Pasuruan

Kasus meninggalnya seorang siswa SDN 3 Watuprapat, Desa Watuprapat, Kecamatan Nguling, Pasuruan, yang diduga terjadi setelah mengonsumsi mi instan dan minuman bersoda saat belum sarapan, mendapat perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, dosen Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), dr. Gina Noor Djalilah, Sp.A., menegaskan bahwa konsumsi mi instan dan soda tidak serta-merta menyebabkan kematian pada orang yang sehat. Namun, ada faktor lain yang kemungkinan turut memengaruhi kondisi kesehatan korban.

“Tidak benar jika hanya sekali makan mi instan dan minum soda langsung menyebabkan kematian pada orang sehat. Akan tetapi, bila dikonsumsi terlalu sering dan berlebihan, kombinasi makanan tinggi garam, gula, dan lemak ini memang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, obesitas, hingga stroke,” ujar dr. Gina kepada detikJatim, Senin (11/5/2026).

Terkait dugaan bahwa korban mengonsumsi mi instan dan soda dalam kondisi perut kosong atau belum sarapan, dr. Gina menilai hal tersebut belum bisa dijadikan kesimpulan sebagai penyebab langsung kematian. Menurutnya, pada individu sehat, konsumsi mi instan dan soda biasanya hanya menimbulkan keluhan ringan seperti nyeri lambung, mual, kembung, atau jantung berdebar sementara.

Ia menjelaskan, apabila seseorang meninggal setelah mengonsumsi mi instan dan soda, umumnya terdapat faktor lain yang lebih dominan, seperti gangguan jantung yang sebelumnya tidak terdeteksi, tersedak, gangguan elektrolit, alergi berat, keracunan, konsumsi berlebihan, maupun riwayat penyakit tertentu.

dr. Gina juga menyampaikan bahwa mi instan dan minuman bersoda sebenarnya masih dapat dikonsumsi bersamaan sesekali oleh orang sehat karena tidak ada reaksi beracun khusus dari kombinasi keduanya. Meski demikian, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan jika dilakukan terlalu sering karena mi instan mengandung garam dan lemak tinggi, sementara soda tinggi gula dan terkadang mengandung kafein. Selain itu, keduanya tergolong rendah serat dan nutrisi.

Beberapa efek yang dapat muncul antara lain perut kembung, rasa begah, refluks atau naiknya asam lambung, rasa haus berlebihan, hingga jantung berdebar pada orang yang sensitif terhadap kafein. Dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut juga berisiko meningkatkan obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.

“Risiko bisa meningkat apabila dikonsumsi saat tubuh kurang tidur atau dehidrasi, dalam jumlah berlebihan, memiliki riwayat maag, hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung, serta disertai kebiasaan merokok maupun mengonsumsi minuman energi. Agar lebih aman, batasi frekuensinya, tambahkan sayur dan protein saat makan mi, perbanyak minum air putih, dan jadikan soda hanya sebagai konsumsi sesekali, bukan kebiasaan harian,” jelasnya.

Terkait penanganan setelah mengonsumsi mi instan dan soda, dr. Gina menyarankan agar segera memperbanyak minum air putih dan tidak langsung tidur setelah makan. Ia juga menganjurkan aktivitas ringan seperti berjalan selama 10–15 menit untuk mengurangi rasa begah.

Selain itu, masyarakat disarankan menghindari tambahan makanan tinggi garam dan gula pada hari yang sama. Bagi yang memiliki lambung sensitif, sebaiknya menghindari kopi, teh pekat, maupun tambahan soda. Mengonsumsi buah dan sayur setelahnya juga dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan serat tubuh.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Gina mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi mi instan dan minuman bersoda serta tidak menjadikan mi instan sebagai menu utama setiap hari. Ia menyarankan agar konsumsi mi dilengkapi protein dan sayuran seperti telur, ayam, sawi, atau wortel, serta mengurangi penggunaan seluruh bumbu untuk menekan asupan garam. Air putih juga sebaiknya lebih diutamakan dibanding minuman bersoda.

Menurutnya, peristiwa yang menimpa siswa SD di Pasuruan tersebut menjadi pengingat penting bagi para orang tua mengenai pentingnya pengawasan terhadap pola makan anak.

“Orang tua diharapkan dapat membimbing anak memilih makanan bergizi seimbang, membatasi makanan tinggi garam, gula, dan lemak, serta membiasakan pola hidup sehat agar pertumbuhan dan kesehatan anak tetap optimal,” pungkasnya.