Istimewa
Kabar tentang balita berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia usai diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan puncak Bondolan, Kabupaten Semarang, dan balita itu dilaporkan langsung mendapat penanganan dari tim SAR.
Video kejadian ini salah satunya diunggah oleh akun Instagram @kabarungaran. Dalam narasinya disebutkan bahwa sang balita mengalami hipotermia saat berada di lokasi pendakian yang dikenal memiliki suhu cukup dingin, terutama di ketinggian.
Menanggapi hal tersebut, dr. Gina Noor Djalilah, Sp.A., M.M., Dokter Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya menjelaskan bahwa hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal, yakni sekitar 35 derajat Celsius.
“Hipotermia terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuannya untuk menghasilkan panas. Pada bayi dan anak kecil, risiko ini jauh lebih tinggi karena sistem pengaturan suhu tubuh mereka belum berkembang sempurna,” ujar Gina, Selasa (14/4/2026).
Menurut Gina, lokasi dengan ketinggian seperti gunung memiliki suhu udara yang lebih rendah dan angin yang lebih kencang. Kondisi ini dapat mempercepat hilangnya panas tubuh, terutama pada bayi dan anak kecil.
Ia menambahkan, anak-anak memiliki beberapa keterbatasan fisiologis, seperti lapisan lemak tubuh yang lebih sedikit, belum mampu menggigil secara efektif untuk menghasilkan panas, serta masih bergantung penuh pada perlindungan orang tua.
Selain itu, perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam di daerah pegunungan juga memperbesar risiko terjadinya hipotermia.
Orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal hipotermia pada anak. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain kulit terasa dingin, pucat atau kebiruan, anak tampak lemas atau mengantuk berlebihan, tangisan melemah, hingga napas dan detak jantung yang melambat.
Pada kondisi yang lebih berat, hipotermia bahkan dapat menyebabkan penurunan kesadaran. “Sering kali gejala ini tidak disadari karena dianggap sekadar kedinginan biasa,” jelas Gina.
Hipotermia bukan kondisi yang bisa dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung pada berbagai komplikasi serius seperti kerusakan organ, gangguan pernapasan, penurunan fungsi jantung, bahkan kematian dalam kasus ekstrem.
Agar kejadian serupa tidak terulang, Gina mengingatkan orang tua untuk lebih berhati-hati saat membawa bayi atau anak kecil ke tempat dengan suhu rendah, terutama di daerah pegunungan.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menghindari suhu ekstrem, mengenakan pakaian hangat berlapis, menjaga tubuh anak tetap kering, serta membatasi durasi aktivitas di luar ruangan.
Orang tua juga disarankan rutin memantau kondisi anak dengan meraba bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan wajah untuk memastikan tetap hangat. Jika anak mulai menunjukkan tanda kedinginan, segera pindahkan ke tempat hangat dan gunakan selimut.
“Bayi di bawah usia satu tahun sebaiknya tidak dibawa ke lingkungan dengan suhu ekstrem karena risikonya sangat tinggi,” tegasnya.
Gina menekankan bahwa liburan keluarga seharusnya menjadi momen yang aman dan menyenangkan. Namun, keselamatan anak tetap harus menjadi prioritas utama.
“Orang tua perlu memahami bahwa bayi dan anak kecil sangat rentan terhadap perubahan suhu, terutama di tempat tinggi. Jangan sampai keindahan alam justru membawa risiko bagi anak,” pungkasnya.
Dengan meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat, risiko hipotermia pada anak dapat diminimalkan.
(0) Komentar