Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri

  • Beranda -
  • Artikel -
  • Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri
Gambar Artikel Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri
  • 06 Feb
  • 2026

Istimewa

Psikolog UMSURA Jelaskan Kasus Siswa SD di NTT yang Ditemukan Gantung Diri

Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri. Di lokasi kejadian, aparat menemukan surat perpisahan yang ditujukan kepada ibunya.

Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah Bajawa. Dalam pesannya, korban menyebut ibunya bersikap pelit dan meminta agar tidak perlu menangisi kepergiannya. Surat itu diamankan polisi sebagai barang bukti saat proses evakuasi jenazah dari pohon cengkih.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Marini, menilai isi surat tersebut mengindikasikan adanya tekanan emosi yang kuat pada anak, diduga berkaitan dengan beban stres ekonomi yang turut memengaruhi kondisi psikologisnya.

Menurut Marini, anak usia 10 tahun sudah dapat mengalami depresi pada tingkat berat. Ungkapan “Mama pelit sekali” yang tertulis dalam surat menunjukkan adanya rasa terluka dan perasaan ditolak secara emosional yang dirasakan anak secara mendalam.

Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi berkepanjangan kerap membuat orang tua menjadi lebih tegang dan kurang responsif secara emosional. Anak yang peka dapat menangkap perubahan sikap itu, lalu menafsirkannya secara keliru sebagai tanda bahwa dirinya menjadi beban keluarga.

Marini menegaskan bahwa anak belum memiliki kesiapan mental untuk memahami persoalan berat seperti kemiskinan. Tanpa pendampingan, mereka memproses masalah orang dewasa dengan pola pikir sederhana dan hitam-putih.

“Kecemasan di lingkungan keluarga bisa terserap oleh anak dan dimaknai dengan cara mereka sendiri. Jika tidak tersedia ruang aman untuk bertanya dan mengekspresikan perasaan, anak bisa mengambil kesimpulan dan keputusan dengan pemahaman yang sangat terbatas,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).

Ia mengimbau agar keluarga dan pihak sekolah lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak, karena bisa menjadi tanda peringatan dini. Kehadiran emosional yang stabil dan konsisten sangat penting agar anak memahami bahwa persoalan hidup adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan beban mereka.

Apabila Anda atau orang di sekitar Anda menunjukkan gejala depresi atau tanda-tanda keinginan mengakhiri hidup, segera cari bantuan profesional. Layanan darurat Kementerian Kesehatan dapat dihubungi melalui nomor 119 untuk mendapatkan pertolongan.