Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik, Pakar Umsura Soroti Perspektif Kelas

  • Beranda -
  • Artikel -
  • Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik, Pakar Umsura Soroti Perspektif Kelas
Gambar Artikel Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik, Pakar Umsura Soroti Perspektif Kelas
  • 16 Sep
  • 2026

Schrenshhot Maudy Ayunda (Tik Tok)

Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik, Pakar Umsura Soroti Perspektif Kelas

Konten Maudy Ayunda berjudul Mindfulness in the Age of Bad News” menuai kritik di media sosial. Konten yang membahas cara menghadapi derasnya berita buruk tersebut dinilai sebagian warganet kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang tidak memiliki keleluasaan untuk mengambil jarak dari persoalan sosial.

Konten tersebut diunggah Maudy Ayunda pada 21 Agustus 2026. Dalam video itu, Maudy membagikan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk, baik yang terjadi di dunia internasional maupun di dalam negeri.

Perbincangan mengenai konten tersebut kemudian berkembang. Sejumlah warganet mengkritik gagasan yang disampaikan Maudy dan menilainya sebagai bentuk tone deaf, yakni dianggap kurang sensitif terhadap pengalaman kelompok masyarakat yang memiliki kondisi sosial berbeda.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah gagasan mengenai diet berita atau mengurangi paparan terhadap berita buruk. Bagi sebagian warganet, pilihan untuk mengambil jarak dari berita dan persoalan sosial lebih mudah dilakukan oleh mereka yang memiliki ruang, keamanan, serta sumber daya untuk melakukannya.

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, mengatakan bahwa mindfulness pada dasarnya bukanlah persoalan yang keliru. Menurutnya, latihan untuk menyadari pikiran dan emosi serta mengelola paparan informasi justru dapat membantu seseorang menghadapi situasi yang penuh tekanan.

Namun, persoalan muncul ketika pengalaman tersebut diperlakukan seolah-olah berlaku universal bagi semua orang.

“Mindfulness jangan dipahami seolah-olah semua orang memiliki kondisi sosial yang sama. Ada orang yang bisa memilih kapan membaca berita, kapan berhenti membaca berita, bahkan kapan mengambil jarak dari persoalan sosial. Tetapi ada masyarakat yang tidak bisa mengambil jarak karena persoalan itu menyangkut pekerjaan, penghasilan, keluarga, atau keselamatan mereka,” ujar Radius, yang juga Wakil Rektor Umsura.

Menurut Radius, perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kesehatan mental tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari struktur sosial.

Dalam perspektif Kajian Budaya, kata dia, pengalaman seseorang tidak berdiri sendiri. Cara seseorang memandang berita, merespons kecemasan, hingga memilih untuk mengambil jarak dari informasi turut dipengaruhi oleh posisi sosial dan sumber daya yang dimiliki.

“Karena itu, saya kira kita perlu membaca mindfulness juga dari perspektif kelas. Jangan sampai kemampuan untuk menjaga kesehatan mental justru menjadi sesuatu yang hanya mudah dilakukan oleh kelompok yang memiliki privilege,” katanya.

Ia menambahkan, setiap orang memang memiliki hak untuk mengatur kesehatan mentalnya. Namun, persoalan muncul ketika pengalaman tersebut dilepaskan dari realitas sosial kelompok masyarakat lainnya.

“Berita buruk bagi seseorang bisa jadi hanya informasi. Tetapi bagi orang lain, berita itu adalah realitas hidupnya. Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, atau kebijakan yang berdampak langsung, mereka tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Saya akan mengambil jeda dari berita ini’,” ungkap Radius.

Menurutnya, kritik yang berkembang terhadap konten Maudy sebenarnya bukan semata-mata ditujukan kepada konsep mindfulness. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah konteks sosial yang melatarbelakangi nasihat tersebut.

“Yang dikritik sebenarnya bukan mindfulness-nya. Yang dipersoalkan adalah konteks sosial di balik nasihat tersebut,” tegasnya.

Radius menilai menjaga kesehatan mental dan tetap kritis terhadap persoalan sosial bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan.

“Justru, menurut saya, mindfulness dapat menjadi cara untuk membuat seseorang tidak mudah terseret emosi ketika menghadapi banjir informasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, mindfulness bukan berarti seseorang harus terus-menerus mengonsumsi berita buruk hingga kondisi dirinya terganggu. Namun, mindfulness juga tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti peduli terhadap persoalan sosial.

“Kita perlu menemukan titik di mana kita tetap waras, tetapi tidak kehilangan kepekaan sosial,” pungkasnya.

Artikel ini sejalan dengan SDG nomor: