Foto Istimewa
Sejumlah seniman menggunakan karya seni untuk menyuarakan keresahan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap di Sumatra. Salah satunya Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi, yang mengangkat kondisi masyarakat melalui foto perempuan berbusana adat dan mengenakan masker di tengah hutan yang hangus terbakar.
Foto-foto tersebut dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, @ichalago, pada Minggu (11/10/2026). Dalam karya itu, busana adat berwarna merah dan hitam tampak kontras dengan pepohonan yang menghitam serta sisa-sisa kebakaran hutan.
Menanggapi karya tersebut, pakar kajian budaya dan media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai seni dapat menjadi sarana kritik untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
“Seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat kritik untuk menggugah kesadaran publik terhadap persoalan sosial dan lingkungan,” ujar Radius, Senin (12/10/2026).
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Umsura itu menjelaskan bahwa seni memiliki kemampuan untuk mempertanyakan keadaan yang telanjur dianggap biasa oleh masyarakat. Dalam konteks kerusakan lingkungan, karya seni dapat mengingatkan publik bahwa bencana yang terjadi berulang kali tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang wajar.
Menurut Radius, dalam perspektif Cultural Studies atau kajian budaya, kebudayaan bukan sekadar tradisi yang dirayakan, melainkan juga ruang tempat berbagai makna dan pandangan saling dipertarungkan. Melalui simbol, gambar, dan pertunjukan, seni dapat mengkritik pandangan dominan sekaligus menghadirkan perspektif lain.
Ia mencontohkan penggunaan busana adat dalam foto karya Ichalago. Busana tersebut dapat dibaca sebagai simbol identitas budaya masyarakat setempat. Sementara itu, masker yang dikenakan para perempuan dan latar hutan yang terbakar menggambarkan ancaman kerusakan lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.
“Melalui simbol-simbol visual, seni dapat menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan hutan yang terbakar, tetapi juga menyangkut identitas, kesehatan, dan ruang hidup masyarakat,” jelasnya.
Radius menambahkan, kekuatan seni tidak berhenti pada kemampuannya menggambarkan kenyataan. Seni juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dan merespons persoalan di sekitarnya.
Salah satu persoalan dalam krisis lingkungan, lanjutnya, adalah kecenderungan masyarakat untuk menormalisasi kerusakan yang terjadi berulang kali. Kebakaran hutan, misalnya, berisiko dianggap sebagai rutinitas tahunan. Begitu pula kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, yang perlahan dapat dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, karhutla tidak hanya berkaitan dengan peristiwa kebakaran, tetapi juga perlu dilihat dalam konteks persoalan ekologis dan tata kelola lingkungan. Karena itu, masyarakat perlu terus diajak melihat dampak kerusakan lingkungan secara kritis, termasuk mempertanyakan tanggung jawab dan upaya pencegahannya.
Dalam situasi tersebut, seni dapat menjadi medium untuk mengusik kenyamanan publik terhadap keadaan yang bermasalah. Karya visual yang menghadirkan gambaran kontras antara identitas budaya dan hutan yang terbakar, misalnya, dapat mengajak masyarakat melihat kembali persoalan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
“Bahaya terbesar bukan hanya ketika hutan terbakar, tetapi ketika kita mulai menganggapnya biasa. Seni dapat menginterupsi kewajaran itu dan mengingatkan publik bahwa ada persoalan yang harus diselesaikan,” tegas Radius.
Ia menilai kritik melalui seni penting untuk menjaga kepekaan masyarakat terhadap persoalan lingkungan. Ketika kerusakan terus berulang dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, seni dapat membuka ruang refleksi mengenai tanggung jawab bersama, kebijakan lingkungan, dan keberlanjutan ruang hidup.
Dengan demikian, seni tidak hanya menawarkan pengalaman estetis, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mempertanyakan keadaan yang dianggap wajar. Dalam konteks krisis lingkungan, karya seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi tidak berarti harus diterima begitu saja.
“Dalam konteks krisis lingkungan, seni dapat menjadi pengingat bahwa sesuatu yang sering terjadi bukan berarti sesuatu yang seharusnya diterima,” pungkasnya.
(0) Komentar