Fenomena Teror Pocong di Jawa Timur, Sosiolog UMSURA: Ketakutan Kolektif Sedang Dimanfaatkan

  • Beranda -
  • Artikel -
  • Fenomena Teror Pocong di Jawa Timur, Sosiolog UMSURA: Ketakutan Kolektif Sedang Dimanfaatkan
Gambar Artikel Fenomena Teror Pocong di Jawa Timur, Sosiolog UMSURA: Ketakutan Kolektif Sedang Dimanfaatkan
  • 25 Mei
  • 2026

Istimewa

Fenomena Teror Pocong di Jawa Timur, Sosiolog UMSURA: Ketakutan Kolektif Sedang Dimanfaatkan

Fenomena teror pocong yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang belakangan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Isu tersebut bermula dari video viral di Lamongan yang memperlihatkan sosok berpakaian putih menyerupai pocong berkeliaran di kawasan permukiman warga pada malam hari.

Video tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kepanikan warga. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian merasa takut keluar rumah pada malam hari.

Menanggapi fenomena itu, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), M. Febriyanto Firman Wijaya menilai bahwa kemunculan sosok pocong tersebut diduga bukan sekadar aksi iseng, melainkan dapat menjadi modus tindak kriminal untuk menebar ketakutan di masyarakat.

Menurutnya, kondisi panik dan turunnya kewaspadaan warga dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan pencurian maupun tindak kejahatan lainnya.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sadar betul bahwa ketakutan kolektif bisa menjadi alat yang sangat efektif. Satu video pocong di malam hari bahkan bisa melumpuhkan kewaspadaan masyarakat lebih cepat dibanding ancaman biasa,” ujar Riyan, Senin (25/5/2026).

Riyan menilai, fenomena tersebut tidak bisa dipandang hanya sebagai candaan atau hiburan semata. Ia menyebut ada proses instrumentalisasi ketakutan yang sengaja diproduksi dan disebarluaskan untuk menciptakan keresahan sosial.

“Ini bukan lagi sekadar iseng. Ketakutan masyarakat sedang dijadikan komoditas. Tanpa sadar, masyarakat menjadi pasar dari rasa takut yang terus diproduksi,” tambahnya.

Ia juga mengkritik peran media sosial yang dinilai kerap menjadi ruang penyebaran kepanikan. Menurutnya, konten yang memancing emosi dan rasa takut jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mendorong masyarakat berpikir kritis.

Dari sudut pandang sosiologi, Riyan melihat fenomena ini sebagai gambaran rapuhnya ketahanan sosial masyarakat terhadap arus informasi digital. Di tengah banjir konten media sosial, masyarakat dinilai mudah terpengaruh oleh narasi mistis tanpa proses verifikasi yang memadai.

“Persoalannya bukan lagi soal pocong itu ada atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu bersikap rasional dan tidak mudah terseret kepanikan massal yang sengaja diproduksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, lembaga pendidikan, khususnya pendidikan berbasis keagamaan, memiliki tanggung jawab penting dalam membangun budaya literasi kritis di masyarakat. Pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga perguruan tinggi dinilai perlu mulai mengajarkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, termasuk konten yang dibungkus nuansa mistis maupun keagamaan.

Menurutnya, upaya tersebut bukan untuk menghilangkan tradisi atau budaya lokal, melainkan agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan ketakutan demi kepentingan tertentu.

“Kepercayaan masyarakat jangan sampai dijadikan bahan bakar untuk menciptakan kepanikan sosial. Di sinilah pentingnya pendidikan kritis dan literasi digital,” pungkasnya.