Istimewa
Kenaikan harga berbagai produk plastik belakangan ini turut menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya impor bahan baku plastik akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Plastik sendiri merupakan produk kimia berbahan polimer sintetis yang banyak digunakan karena murah, mudah didapat, dan praktis. Namun, di balik kemudahannya, penggunaan plastik yang berlebihan menyimpan risiko bagi kesehatan yang kerap kurang disadari masyarakat.
Dosen Teknologi Laboratorium Medik (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Baterun Kunsah, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan jenis plastik yang digunakan untuk kemasan makanan dan kebutuhan lainnya. Hal ini penting karena setiap plastik memiliki karakteristik bahan baku dan proses produksi yang berbeda.
“Cara sederhana untuk menghindari bahaya plastik adalah dengan mengetahui jenis plastik yang digunakan, khususnya pada kemasan makanan dan minuman,” ujar Kunsah, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa secara umum botol atau kemasan plastik yang digunakan sehari-hari terbagi menjadi tujuh jenis. Klasifikasi tersebut menggunakan kode internasional yang dikeluarkan oleh The Society of the Plastic Industry pada 1988 di Amerika Serikat dan kemudian diadopsi oleh berbagai lembaga standar internasional, termasuk ISO (International Organization for Standardization).
Kunsah memaparkan beberapa jenis plastik yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dampaknya bagi kesehatan.
Jenis pertama adalah PET atau PETE (Polyethylene Terephthalate) yang biasanya digunakan pada botol air mineral, botol jus, dan berbagai botol minuman transparan lainnya.
“Botol jenis ini sebenarnya direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jika digunakan berulang kali, lapisan polimernya dapat terurai dan berpotensi bersifat karsinogenik jika terakumulasi dalam tubuh,” jelasnya.
Jenis berikutnya adalah LDPE (Low Density Polyethylene) yang umumnya digunakan pada plastik kemasan makanan atau botol yang lebih fleksibel. Plastik ini relatif aman untuk makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan bahan yang dikemas, meskipun tetap sulit terurai di lingkungan.
Selanjutnya adalah PS (Polystyrene) yang sering ditemukan pada wadah makanan styrofoam, gelas sekali pakai, karton telur, hingga peralatan dapur plastik.
Menurut Kunsah, plastik jenis ini berpotensi melepaskan zat styrene ketika bersentuhan dengan makanan, terutama makanan panas.
“Zat tersebut berbahaya bagi kesehatan karena dapat memengaruhi fungsi otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita, serta berdampak pada sistem saraf,” ungkapnya.
Selain itu, polystyrene juga sulit didaur ulang dan jika dibakar akan menghasilkan api berwarna kuning jingga serta meninggalkan jelaga yang berbahaya bagi lingkungan.
Jenis lain yang juga perlu diperhatikan adalah plastik dengan kode 7 atau kategori other, salah satunya polycarbonate (PC). Plastik ini sering digunakan pada botol minum olahraga, galon air, hingga botol susu bayi.
Kunsah menjelaskan bahwa ketika plastik jenis ini dipanaskan, terdapat kemungkinan zat bisphenol-A (BPA) keluar dan bercampur dengan makanan atau minuman.
“Ironisnya, botol susu bayi yang terbuat dari plastik PC dapat mengeluarkan bisphenol-A ketika dipanaskan. Zat ini diketahui dapat mengganggu sistem hormon dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh,” tegasnya.
Untuk mengurangi risiko paparan bahan berbahaya dari plastik, Kunsah mengimbau masyarakat agar mulai mengurangi penggunaan kemasan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah membawa wadah makanan sendiri dari bahan non-plastik, seperti rantang atau tempat makan berbahan logam dan kaca.
“Misalnya saat membeli bakso atau makanan lain, sebaiknya membawa wadah sendiri seperti yang dilakukan masyarakat dulu,” katanya.
Selain itu, ketika memanaskan makanan di microwave, masyarakat disarankan menggunakan wadah berbahan kaca. Jika menggunakan plastik sebagai penutup makanan, pilih plastik yang berlabel polyethylene karena relatif lebih aman.
“Langkah kecil ini penting untuk mengurangi risiko paparan zat berbahaya dari plastik sekaligus menjaga kesehatan dalam jangka panjang,” tutupnya.
(0) Komentar