Istimewa
Kasus rasisme terhadap pemain sepak bola masih terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir, baik di level internasional maupun nasional. Di Eropa, bintang Real Madrid, Vinícius Júnior, beberapa kali menjadi korban hinaan rasial saat bertanding. Di Indonesia, insiden serupa juga muncul dalam laga Atlético Madrid U18 melawan Bali United U18, serta dialami pemain Madura United, Denilson Junior dan Gabriel Mutombo yang mengaku menerima perlakuan rasial dari oknum suporter Persib Bandung.
Belum lama ini serangan rasis juga dialami bek Persebaya Surabaya asal Sentani, Papua, Mikael Alfredo Tata, yang juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Insiden tersebut muncul setelah pertandingan antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya.
Sejumlah komentar bernada rasis terlihat di media sosial setelah pertandingan tersebut. Beberapa warganet menuliskan komentar yang dianggap menghina secara rasial, seperti menyebut kata-kata yang merendahkan dan mengaitkannya dengan stereotip terhadap orang Papua.
Menanggapi hal tersebut, Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Radius Setiyawan, menyampaikan bahwa praktik rasisme sebenarnya masih sering terjadi di ruang publik Indonesia.
“Selalu saja terulang, lagi-lagi ruang publik kita dikotori tindakan rasis,” ujar Radius Selasa (10/3/26)
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme kerap mengarah pada kelompok masyarakat berkulit gelap, khususnya saudara-saudara kita yang ada di Timur.
“Dalam konteks Indonesia, sasaran rasisme biasanya menyasar orang dengan kulit berwarna atau hitam. Yang paling sering menimpa saudara-saudara kita di Papua,” imbuhnya.
Menurut Radius, cara pandang rasisme tersebut tidak bisa dilepaskan dari warisan pola pikir kolonial yang masih tersisa hingga hari ini. Dalam perspektif kolonial, masyarakat kulit hitam sering ditempatkan sebagai kelompok yang dianggap belum maju, terbelakang, atau bahkan dijadikan bahan hinaan dan lelucon.
Ia menilai persoalan rasisme hingga kini belum menjadi perhatian serius negara, sehingga tindakan merendahkan kelompok etnis tertentu masih kerap terjadi di ruang publik.
“Mental rasis mengendap sekian lama dan mengharuskan kita selalu memiliki keinginan untuk menghina bahkan menundukkan siapa saja yang dianggap rendah. Ini persoalan akut bangsa ini,” tegasnya.
Padahal, lanjut Radius, salah satu fondasi utama negara demokratis adalah pengakuan atas kesetaraan di tengah berbagai perbedaan. Indonesia sebagai negara multikultural tidak akan berkembang jika praktik diskriminasi seperti rasisme masih terus terjadi dan dibiarkan.
“Kemanusiaan harus menjadi nilai utama dalam membangun keindonesiaan. Masyarakat dengan warna kulit apa pun harus diposisikan sebagai bangsa yang sama dan memiliki hak yang sama pula,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Radius menegaskan bahwa negara perlu hadir secara lebih serius untuk mengurai persoalan tersebut, salah satunya melalui pendidikan dan penguatan nilai budaya yang menjunjung kesetaraan.
“Jika dibiarkan, ruang publik kita akan terus tercemar oleh tindakan rasis yang memalukan,” katanya.
Sementara itu, pihak UMSURA juga menyatakan keprihatinan atas dugaan aksi rasisme yang menimpa salah satu mahasiswanya tersebut. Kampus mengecam segala bentuk diskriminasi rasial dan menyatakan dukungan penuh kepada Mikael Tata agar tetap fokus berkarya dan berprestasi, baik sebagai atlet maupun mahasiswa.
UMSURA menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, pihak kampus berharap insiden serupa tidak lagi terulang serta menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat sikap saling menghargai di tengah keberagaman Indonesia.
(0) Komentar