9 Calon Pengantin di Gresik Terdeteksi HIV, Pakar Umsura Tekankan Pentingnya Skrining Pranikah

  • Beranda -
  • Artikel -
  • 9 Calon Pengantin di Gresik Terdeteksi HIV, Pakar Umsura Tekankan Pentingnya Skrining Pranikah
Gambar Artikel 9 Calon Pengantin di Gresik Terdeteksi HIV, Pakar Umsura Tekankan Pentingnya Skrining Pranikah
  • 07 Jul
  • 2026

Ilustrasi AI

9 Calon Pengantin di Gresik Terdeteksi HIV, Pakar Umsura Tekankan Pentingnya Skrining Pranikah

Beredarnya informasi mengenai sembilan calon pengantin di Kabupaten Gresik yang terdeteksi positif HIV (Human Immunodeficiency Virus) saat menjalani pemeriksaan kesehatan pranikah menjadi perhatian publik. Temuan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan beragam respons, mulai dari kekhawatiran hingga munculnya stigma terhadap orang dengan HIV.

Menanggapi hal tersebut, dosen Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Sebaliknya, temuan tersebut harus menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran terhadap kesehatan reproduksi dan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.

Menurut Vella, skrining kesehatan pranikah bukan bertujuan untuk menghakimi, membuka aib, ataupun membatalkan rencana pernikahan. Pemeriksaan tersebut justru menjadi langkah preventif untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing pasangan sejak dini.

"Skrining kesehatan pranikah memegang peranan penting untuk mengetahui status kesehatan pasangan secara transparan sejak awal, mencegah penularan virus antar-pasangan, serta mempersiapkan kehamilan yang sehat sehingga dapat memutus risiko penularan kepada bayi," ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat juga perlu memahami bahwa HIV tidak mudah menular melalui interaksi sosial sehari-hari. Virus tersebut tidak menyebar melalui berjabat tangan, berbagi alat makan, ataupun tinggal serumah dengan orang yang hidup dengan HIV.

"HIV hanya dapat ditularkan melalui jalur tertentu, yakni hubungan seksual yang berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian atau tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu kepada anak selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui," jelasnya.

Vella menilai, munculnya kepanikan di tengah masyarakat sebagian besar dipicu oleh minimnya pemahaman mengenai cara penularan HIV. Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi harus terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda.

Ia mengimbau anak muda untuk menerapkan perilaku hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV. Di antaranya tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, menjaga kesetiaan dengan tidak berganti-ganti pasangan, menghindari perilaku seksual berisiko, serta memastikan penggunaan jarum suntik yang baru dan steril saat menerima layanan kesehatan.

Selain itu, bagi mereka yang aktif secara seksual dan belum mengetahui status HIV pasangannya, penggunaan kondom dapat menjadi salah satu upaya pencegahan penularan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Menurut Vella, kesehatan jasmani dan rohani merupakan fondasi utama dalam membangun keluarga. Oleh karena itu, memastikan kondisi kesehatan diri dan pasangan sebelum memasuki jenjang pernikahan seharusnya menjadi prioritas setiap calon pengantin.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV. Menurutnya, diskriminasi justru membuat banyak orang enggan memeriksakan diri sehingga kasus HIV berpotensi tidak terdeteksi dan penularan terus berlangsung.

"Anak muda perlu lebih proaktif menjaga kesehatan reproduksi serta memanfaatkan layanan konseling dan tes HIV sebagai bagian dari ikhtiar membangun keluarga yang sehat, aman, dan terencana," pungkasnya.