Penyerahan alat filtrasi air (Humas)
Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menyalurkan dua unit alat filtrasi air untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana di Desa Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut disalurkan melalui Tim Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) Umsura sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan masyarakat pascabencana.
Bantuan dua unit alat filtrasi air diserahkan kepada Syahrudin Qola selaku Ketua Pos Koordinasi Kecamatan Riung. Bantuan ini diberikan setelah tim relawan menemukan secara langsung persoalan keterbatasan akses air yang dihadapi masyarakat setempat.
Selama menjalankan misi kemanusiaan di Riung, tim Matana menemukan bahwa masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan air yang hanya tersedia sekitar dua kali dalam sepekan, yakni pada Senin dan Kamis. Selain ketersediaannya yang terbatas, sumber air yang dapat diakses masyarakat juga memiliki rasa payau.
Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air sehari-hari menjadi tantangan bagi masyarakat. Karena itu, bantuan alat filtrasi diharapkan dapat mendukung pengolahan sumber air yang tersedia dan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya selama proses pemulihan.
Syahrudin Qola menyambut baik bantuan yang diberikan Umsura. Menurutnya, alat filtrasi air merupakan dukungan yang relevan dengan kondisi masyarakat Riung yang masih menghadapi keterbatasan akses dan kualitas sumber air.
“Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat Riung. Air menjadi kebutuhan yang setiap hari kami perlukan, sementara ketersediaannya masih terbatas dan kondisi air yang ada juga payau. Kami berharap dengan adanya alat filtrasi ini bisa benar-benar membantu masyarakat dan digunakan dengan sebaik-baiknya,” ujar Syahrudin.
Selain menyalurkan bantuan alat filtrasi air, Tim Matana Umsura juga menjalankan pendampingan psikososial dengan fokus pada anak-anak dan masyarakat. Tim yang diberangkatkan pada 30 September 2026 tersebut memberikan ruang bagi penyintas untuk berinteraksi, bercerita, mengikuti kegiatan kreatif, serta membangun kembali rasa aman setelah mengalami situasi yang penuh tekanan.
Pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dengan kondisi mental dan sosial masyarakat agar dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, relawan Matana berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk memahami kebutuhan yang dihadapi di lapangan. Pendekatan tersebut menjadi dasar dalam memberikan dukungan yang sesuai dengan kondisi penyintas, termasuk melalui bantuan untuk memenuhi kebutuhan air.
Selain bantuan filtrasi air dan pendampingan psikososial, Matana Umsura juga membawa donasi yang dihimpun melalui aksi kepedulian mahasiswa baru Umsura. Sebanyak 3.185 mahasiswa baru terlibat dalam pengumpulan donasi berupa boneka, pembalut, dan popok, serta donasi uang sebesar Rp53.712.971.
Donasi tersebut selanjutnya disalurkan melalui Lazismu Jawa Timur untuk membantu masyarakat terdampak bencana di NTT.
Bantuan yang dihimpun mahasiswa baru itu menjadi wujud kepedulian terhadap kebutuhan perempuan dan anak dalam situasi pascabencana. Boneka diharapkan dapat memberikan dukungan emosional bagi anak-anak, sedangkan pembalut dan popok ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari penyintas.
Rangkaian kegiatan Matana Umsura di Riung menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Pendampingan psikososial, pemenuhan kebutuhan dasar, serta kepedulian masyarakat dari luar wilayah terdampak merupakan bagian yang saling melengkapi dalam membantu penyintas bangkit kembali.
Melalui penyaluran alat filtrasi air, pendampingan psikososial, dan distribusi donasi, Umsura berupaya menghadirkan bantuan yang berangkat dari kebutuhan masyarakat di lapangan. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat proses pemulihan sekaligus mendorong masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
Upaya ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam penanganan pascabencana. Dengan memahami kebutuhan penyintas secara langsung, bantuan diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan mendesak, tetapi juga mendukung proses pemulihan yang berkelanjutan.
(0) Komentar