Umsura Berangkatkan 11 Mahasiswa Relawan ke NTT, Fokus Pemulihan Pascagempa di Ende

  • Beranda -
  • Berita -
  • Umsura Berangkatkan 11 Mahasiswa Relawan ke NTT, Fokus Pemulihan Pascagempa di Ende
Gambar Berita Umsura Berangkatkan 11 Mahasiswa Relawan ke NTT, Fokus Pemulihan Pascagempa di Ende
  • 30 Sep
  • 2026

11 Mahasiswa Relawan ke NTT, Fokus Pemulihan Pascagempa di Ende

Umsura Berangkatkan 11 Mahasiswa Relawan ke NTT, Fokus Pemulihan Pascagempa di Ende

Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) memberangkatkan 11 mahasiswa yang tergabung dalam Tim Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk menjalankan aksi kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim tersebut akan berfokus pada wilayah Ende yang terdampak gempa bumi pada Agustus lalu.

Pelepasan Tim Matana dilakukan pada Rabu (30/9) di Gedung At Tauhid Tower Dasar, Universitas Muhammadiyah Surabaya. Tim relawan secara resmi diberangkatkan oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi Umsura Radius Setiyawan, bersama Kepala LRIPM Umsura Arin Setyowati dan Ketua Lazismu Umsura Gandung Fajar Panjalu. Dalam kesempatan tersebut, Lazismu Umsura juga menyerahkan bantuan dana sebesar Rp49.592.971  untuk korban di NTT.

Sebanyak 11 mahasiswa dari berbagai program studi akan menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Mereka berasal dari bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, hingga ekonomi dan keuangan.

Para mahasiswa yang diberangkatkan yakni Mirwan dari Studi Agama-Agama; Salsabila Firamadhani, Ajeng Pradita Cahyani, Mutia Putri Ardiantoro, Delya Melanisa, dan Prasasti Pelangi Koirunisyah dari S1 Keperawatan; Deva Raihana dari Profesi Dokter; Hagea Sophia Ramadhan dari S1 Pendidikan Dokter; Junaidi Mustafa dari S1 Pendidikan Matematika; Chusnaini Laila Nadhifah dari S1 Kebidanan; serta Arif Rahman Ramadhani dari S1 Perbankan Syariah.

Dalam pelaksanaan di lapangan, mereka akan didampingi empat pendamping, yakni Dr. Tri Kurniawati, S.Gz., M.Kes., dari S1 PG PAUD; Uswatun Hasanah, S.Kep., Ns., M.Kep., Ns.Sp.Kep.J, dari S1 Keperawatan; Siswanto Agung Wijaya, S.Kep., Ns., M.MB, dari S1 Keperawatan; serta Tendik M. Rizal Syahroni, S.Kep.,

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi Umsura, Radius Setiyawan, mengatakan pengiriman mahasiswa ke lokasi bencana bukan kali pertama dilakukan Umsura. Menurutnya, mahasiswa yang lolos seleksi program Matana telah mendapatkan pembekalan dan pelatihan sebelum diterjunkan ke lapangan.

“Ini bukan kali pertama Umsura menerjunkan mahasiswa ke lokasi bencana. Mahasiswa yang telah lolos seleksi program ini akan dikonversikan SKS-nya sehingga mereka tidak perlu mengikuti KKN lagi,” kata Radius Rabu (30/9/26)

Ia menjelaskan, persiapan tersebut penting karena kondisi di lokasi bencana membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada umumnya. Para mahasiswa telah mendapatkan pelatihan dan pembekalan untuk menghadapi kondisi di lapangan.

“Kami melepas relawan untuk melakukan pengabdian masyarakat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ende. Ada 11 mahasiswa yang kami berangkatkan dengan total waktu satu bulan, termasuk perjalanan pulang dan pergi,” ujarnya.

Menurut Radius, para mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang keilmuan sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi sesuai dengan kompetensi masing-masing.

“Mahasiswa yang kami kirim dari berbagai jurusan, mulai kedokteran, pendidikan, bidan, keperawatan hingga studi agama-agama. Mereka juga didampingi dosen-dosen yang memiliki kepakaran di bidang penanganan bencana,” imbuhnya.

Selain mengirimkan relawan, Umsura sebelumnya juga telah menyalurkan bantuan bagi perempuan dan anak yang terdampak bencana. Bantuan tersebut berupa boneka, pembalut, dan popok yang dikumpulkan oleh lebih dari 3.000 mahasiswa baru dalam rangkaian kegiatan MOX 2026.

Radius mengatakan, penanganan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan berupa material. Pendampingan psikologis, pemulihan pendidikan, penguatan literasi, serta keterlibatan langsung di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Karena itu, Tim Matana tidak hanya akan terlibat dalam kegiatan sosial, tetapi juga membantu pemulihan sejumlah fasilitas pendidikan, penguatan literasi, serta pendampingan psikologis bagi anak-anak yang terdampak bencana.

Pelaksanaan kegiatan tersebut telah dikoordinasikan dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) agar program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.

Salah satu mahasiswa yang diberangkatkan, Junaidi Mustafa, mahasiswa S1 Pendidikan Matematika yang berasal dari NTT, mengaku senang dapat lolos dalam program tersebut.

Bagi Junaidi, keterlibatan dalam aksi kemanusiaan di tanah kelahirannya menjadi pengalaman sekaligus bentuk kontribusi kepada masyarakat yang terdampak bencana.

“Saya senang bisa lolos dalam program ini. Bisa terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan di tanah kelahiran tentu menjadi pengalaman yang berarti bagi saya,” ujarnya.

Junaidi juga mengatakan, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ucapan terima kasih sebagai mahasiswa penerima KIP-K yang telah mendapatkan pembebasan biaya pendidikan secara penuh.

Ia berharap kehadirannya bersama Tim Matana dapat memberikan manfaat bagi masyarakat NTT, khususnya warga yang masih menjalani proses pemulihan setelah bencana.

 

Berita ini sejalan dengan SDG nomor: