Tutup Munas Tarjih Muhammadiyah, Rektor Umsura Dorong Penguatan Kader Ulama Persyarikatan

  • Beranda -
  • Berita -
  • Tutup Munas Tarjih Muhammadiyah, Rektor Umsura Dorong Penguatan Kader Ulama Persyarikatan
Gambar Berita Tutup Munas Tarjih Muhammadiyah, Rektor Umsura Dorong Penguatan Kader Ulama Persyarikatan
  • 07 Nov
  • 2026

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Prof.Mundakir (Humas)

Tutup Munas Tarjih Muhammadiyah, Rektor Umsura Dorong Penguatan Kader Ulama Persyarikatan

Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan dakwah Muhammadiyah, salah satunya melalui pendidikan dan pengaderan ulama tarjih. Komitmen tersebut disampaikan Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua., saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) XXXIII Tarjih Muhammadiyah di kampus setempat, Sabtu (7/11/2026).

Dalam sambutan penutupan, Mundakir menyampaikan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menjalankan pendidikan tinggi, tetapi juga berperan strategis dalam mendukung gerakan dakwah dan pengembangan sumber daya manusia Persyarikatan.

Ia mengapresiasi kepercayaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, khususnya Majelis Tarjih dan Tajdid, yang telah menunjuk Umsura sebagai tuan rumah penyelenggaraan Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah.

“Atas nama panitia penyelenggara Umsura, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, khususnya Majelis Tarjih PP, yang memberikan amanah dan kepercayaan kepada Umsura, kepada kami,” ujarnya.

Mundakir juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, baik dalam penyambutan peserta, penyediaan fasilitas penginapan maupun pelayanan konsumsi.

Ia mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja maksimal untuk memastikan rangkaian musyawarah berjalan lancar. Menurutnya, penyelenggaraan Munas di Umsura diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi Persyarikatan, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi pengembangan kehidupan akademik di lingkungan kampus.

Umsura Kembangkan Pendidikan Kader Ulama Tarjih

Lebih lanjut, Mundakir menegaskan bahwa pengelolaan perguruan tinggi Muhammadiyah harus senantiasa berpedoman pada nilai-nilai Persyarikatan, termasuk Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).

Ia menjelaskan, setiap amal usaha Muhammadiyah harus dikelola secara profesional, transparan, terbuka terhadap audit, serta berorientasi pada kemaslahatan umat. Selain menjalankan fungsi kelembagaan, amal usaha juga memiliki tanggung jawab untuk menopang dan mengembangkan dakwah Muhammadiyah.

“Kami menyadari bahwa amal usaha ini adalah milik kita semua, milik warga Muhammadiyah, dan milik Persyarikatan Muhammadiyah. Tentu tidak ada alasan untuk berpikir seolah-olah amal usaha ini merupakan milik pribadi,” tegasnya.

Sebagai bentuk konkret dukungan terhadap dakwah Persyarikatan, Umsura saat ini mengembangkan Pendidikan Kader Ulama Tarjih Muhammadiyah (PKUTM). Program tersebut telah memasuki angkatan ketiga dengan jumlah peserta yang terus meningkat.

Pada angkatan pertama, program ini diikuti 17 mahasiswa, kemudian bertambah menjadi 19 mahasiswa pada angkatan kedua, dan 25 mahasiswa pada angkatan ketiga.

Mundakir menjelaskan, seluruh pembiayaan pendidikan peserta PKUTM saat ini masih ditanggung oleh Umsura. Ke depan, ia berharap program tersebut dapat dikembangkan melalui skema pembiayaan bersama dengan melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) lainnya.

Ia juga membuka peluang bagi kader Muhammadiyah dari berbagai daerah untuk mengikuti pendidikan tersebut di Umsura. Namun, calon peserta tetap harus memenuhi persyaratan akademik dan kemampuan keilmuan yang telah ditetapkan.

“Bapak-Ibu dari daerah lain mungkin dapat mendaftarkan kadernya dalam program PKUTM di Umsura. Tentu seleksinya ketat. Peserta harus mampu membaca kitab, menguasai bahasa Arab, dan memenuhi persyaratan lainnya,” jelasnya.

Menurut Mundakir, Umsura akan terus mendukung program-program pengembangan Persyarikatan yang memiliki tujuan jelas, dapat dipertanggungjawabkan, serta disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan perguruan tinggi.

Regenerasi Kader untuk Keberlanjutan Umsura

Dalam kesempatan tersebut, Mundakir juga mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif warga Muhammadiyah dalam menjaga keberlanjutan amal usaha, termasuk pengembangan Umsura.

Ia menilai, kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi memiliki periode dan batas waktu. Karena itu, keberlanjutan institusi harus dipersiapkan melalui proses kaderisasi yang berkesinambungan agar kampus tetap berkembang sesuai dengan cita-cita Persyarikatan.

“Untuk selanjutnya, kader-kader terbaik Persyarikatanlah yang dapat menjadikan Umsura terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan keinginan kita semua, sehingga Umsura dapat menjadi kebanggaan bersama,” katanya.

Menutup sambutannya, Mundakir menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian Munas hingga selesai. Ia juga mengajak para peserta untuk turut memperkenalkan Umsura kepada keluarga, kerabat, maupun masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Sementara itu, Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah membahas sejumlah agenda strategis melalui sidang pleno dan komisi. Beberapa pokok pembahasan di antaranya Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT).

Berakhirnya Munas XXXIII Tarjih Muhammadiyah di Umsura menjadi penutup rangkaian permusyawaratan yang mempertemukan pimpinan dan kader Muhammadiyah dari berbagai wilayah di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang pengembangan pemikiran keislaman sekaligus perumusan pandangan keagamaan Muhammadiyah dalam merespons berbagai persoalan kontemporer.

Berita ini sejalan dengan SDG nomor: