Tuntaskan Pendidikan Kedokteran dengan IPK 3,97, Ini Rahasia Belajar Aurella Shafa

  • Beranda -
  • Berita -
  • Tuntaskan Pendidikan Kedokteran dengan IPK 3,97, Ini Rahasia Belajar Aurella Shafa
Gambar Berita Tuntaskan Pendidikan Kedokteran dengan IPK 3,97, Ini Rahasia Belajar Aurella Shafa
  • 03 Nov
  • 2026

Aurella Shafa Helsana mahasiswa FK Umsura (Humas)

Tuntaskan Pendidikan Kedokteran dengan IPK 3,97, Ini Rahasia Belajar Aurella Shafa

Meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna di Fakultas Kedokteran bukan perkara mudah. Padatnya materi perkuliahan, praktikum, ujian blok, tutorial, hingga skills lab menjadi tantangan yang harus dihadapi mahasiswa kedokteran selama masa pendidikan.

Namun, tantangan tersebut berhasil dilalui Aurella Shafa Helsana. Wisudawan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Wisuda ke-55 ini berhasil meraih IPK 3,97 dengan predikat cumlaude.

Pencapaian tersebut menjadi buah dari konsistensi dan kesungguhannya menjalani proses akademik selama masa pendidikan preklinik. Menariknya, Aurella mengaku tidak pernah menetapkan target nilai yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Ia memilih menjalani setiap proses perkuliahan dan ujian dengan berusaha semaksimal mungkin tanpa memberikan tekanan berlebihan.

“Materi yang luas dan kompleks, ditambah tuntutan praktikum, ujian blok, tutorial, skills lab, menuntut saya untuk mampu mengatur waktu dengan lebih baik dan menjaga konsistensi belajar,” ungkap Aurella.

Dalam menghadapi padatnya materi kedokteran, Aurella memiliki strategi belajar tersendiri. Ia terbiasa mencatat materi menggunakan buku tulis dan menyusunnya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami.

Baginya, memahami konsep dasar jauh lebih penting daripada sekadar menghafal materi. Sebagai contoh, sebelum mempelajari patofisiologi, ia terlebih dahulu memastikan memahami fisiologi agar dapat mengetahui alur dan keterkaitan setiap konsep.

Saat mengikuti perkuliahan, Aurella juga terbiasa mendengarkan penjelasan dosen sembari mencatat poin-poin penting pada lembar cetak materi presentasi. Cara tersebut membantunya mengingat kembali penjelasan dosen ketika tidak memiliki banyak waktu untuk mengulang materi.

Tidak memiliki jadwal belajar yang kaku, Aurella biasanya memilih waktu dini hari untuk belajar. Ia juga berusaha menghindari kebiasaan belajar hingga terlalu larut malam agar kondisi tubuh tetap terjaga.

“Bagi saya, mengatur waktu bukan berarti harus mengisi setiap jam dengan selalu belajar, tetapi mengetahui kapan harus fokus dan kapan harus memberikan waktu untuk diri sendiri,” tuturnya.

Tantangan akademik paling berat yang pernah dihadapinya adalah exit exam sebelum memasuki pendidikan profesi dokter. Ujian tersebut mengharuskannya mengintegrasikan kembali materi dari puluhan blok yang telah dipelajari selama empat tahun pendidikan preklinik.

Untuk menghadapinya, Aurella berusaha menjaga kondisi mental dengan berfokus pada proses belajarnya sendiri, bukan membandingkan perkembangan akademiknya dengan teman-teman yang lain.

Ia juga lebih nyaman mempelajari materi secara mandiri sebelum berdiskusi bersama teman. Menurutnya, belajar mandiri membantunya memahami materi sesuai gaya belajarnya, sementara diskusi menjadi ruang untuk bertukar pemahaman dan mengklarifikasi hal-hal yang belum dimengerti.

Di luar kegiatan akademik, Aurella juga mengikuti organisasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan sejumlah kompetisi, seperti lomba anatomi serta lomba inovasi. Berbagai aktivitas tersebut dijalaninya dengan tetap mempertimbangkan skala prioritas dan tanggung jawab akademik.

Di balik pencapaian IPK 3,97, ada sosok orang tua yang menjadi sumber dukungan terbesar dalam perjalanan pendidikannya. Aurella mengungkapkan bahwa orang tuanya tidak pernah menuntut dirinya untuk selalu mendapatkan nilai sempurna. Mereka justru lebih mengutamakan kesehatan, kebahagiaan, dan proses pendidikan yang dijalaninya.

“I am the dream they never stop believing in. They weren’t doctors, but they raised the first one in our family,” ungkapnya.

Bagi Aurella, keberhasilan yang diraihnya bukan semata-mata pencapaian pribadi. Ada doa, pengorbanan, dan kepercayaan orang tua yang mengantarkannya hingga berada di titik tersebut.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen yang telah membimbing selama masa pendidikan, terutama dr. Nurma dan dr. Laily yang turut memberikan arahan dan dukungan dalam perjalanan akademiknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan preklinik, Aurella kini bersiap memasuki tahap pendidikan profesi dokter. Ia bertekad menjalani setiap rotasi dengan sungguh-sungguh, memperdalam kemampuan klinis, serta belajar menghadapi pasien dan beragam kasus medis secara langsung.

Menurutnya, IPK tinggi bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa kedokteran. Pemahaman terhadap materi dan kemampuan mengintegrasikan ilmu justru menjadi bekal penting untuk menjalani profesi dokter.

Aurella pun membagikan tiga pesan bagi mahasiswa yang tengah berjuang menghadapi tuntutan akademik. Pertama, mengenali kemampuan dan batas diri serta menemukan metode belajar yang paling sesuai. Kedua, selalu mengingat tujuan awal agar tetap memiliki motivasi ketika menghadapi kejenuhan. Ketiga, tidak mudah berpuas diri dan terus mengembangkan kemampuan meskipun telah meraih pencapaian akademik.

“Tidak harus mendapatkan nilai sempurna untuk membuktikan bahwa kita mampu. Setiap orang memiliki proses dan jalan masing-masing. Do your part, trust the process, dan serahkan hasilnya kepada Allah,” pesannya.

Bagi Aurella, predikat cumlaude bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan. Justru, pencapaian tersebut menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus belajar dan mengabdikan ilmu di bidang kedokteran.

Berita ini sejalan dengan SDG nomor: