Prof.Lina Listiana Guru Besar Pembelajaan Metakognitif UMSURA (Humas)
Lahir di Kecamatan Majalaya, Bandung, pada 22 Februari 1967, Prof. Dr. Lina Listiana, M.Kes. tidak tumbuh dari lingkungan akademisi. Ayahnya, Tatang, seorang aparatur sipil negara asal Garut, dikenal disiplin dan menaruh perhatian besar pada pendidikan. Sementara ibunya, Tatik, adalah sosok ibu rumah tangga yang sederhana, tetapi menjadi penopang perjalanan akademiknya.
Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Lina kecil dibesarkan dalam nilai kedisiplinan dan tekad untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Sejak awal, arah hidupnya sudah ditentukan: sekolah, belajar, dan berprestasi.
Bakat akademiknya mulai terlihat sejak bangku sekolah dasar. Ia rutin menjuarai lomba menulis sejak kelas tiga. Di jenjang SMP, ia menjadi juara umum, dan di SMA tetap berada di jajaran peringkat teratas.
Namun, yang membuat perjalanan Lina berbeda bukan sekadar prestasi, melainkan konsistensinya meraih beasiswa. Sejak SMP, ia telah mendapatkan beasiswa karena capaian akademiknya—bahkan sejak saat itu ia tidak lagi membayar biaya sekolah. Tradisi ini terus berlanjut hingga perguruan tinggi. S1, S2, hingga S3 ia tempuh dengan beasiswa penuh.
“Alhamdulillah, sejak SMP sudah dapat beasiswa. S1, S2, sampai S3 juga,” ujarnya saat diwawancara Rabu (29/4/26)
Bagi Lina, beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan amanah. Ia bahkan pernah menyerahkan seluruh dana beasiswanya kepada orang tua untuk membantu kebutuhan keluarga.
Menariknya, Lina tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Saat SMA, ia justru ingin masuk dunia kesehatan dan memilih farmasi sebagai pilihan utama dalam jalur PMDK (kini setara SNBP).
Namun, kebimbangan pada pilihan kedua membawanya pada percakapan sederhana dengan sang ayah.
“Bapak bilang, ‘sudah ke IKIP Bandung saja,’” ujarnya.
Pilihan itu mengantarnya ke Pendidikan Biologi IKIP Bandung, tempat ia menyelesaikan studi S1 pada 1991. Dari keputusan sederhana itulah, arah hidupnya perlahan berubah.
Semasa kuliah, Lina dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan lebih fokus pada akademik. Ia bukan tipe mahasiswa yang menonjol secara sosial. Namun, pengalaman praktik mengajar (PPL) menjadi titik balik penting.
Di sebuah SMA favorit di Bandung, ia justru diberi kepercayaan penuh untuk mengajar, bahkan hingga kelas tingkat akhir. Kepercayaan itu menumbuhkan keyakinan baru dalam dirinya bahwa mengajar bukan sekadar profesi, tetapi ruang untuk bertumbuh.
Mengabdi Lebih dari Tiga Dekade
Karier akademiknya dimulai pada 1992, ketika ia resmi menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Sejak saat itu, lebih dari tiga dekade ia mengabdikan diri di kampus.
Tak hanya mengajar, Lina juga memegang berbagai posisi strategis: mulai dari Pembantu Direktur Akademi Analis Kesehatan, Ketua Program Studi selama dua periode, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran, hingga Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (2020–2024). Kini, ia juga aktif di Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur.
Perjalanan panjang ini menegaskan satu hal: Lina bukan hanya akademisi, tetapi juga penggerak sistem pendidikan.
Konsisten Meneliti: Dari Biologi ke Metakognisi
Secara akademik, Lina menempuh pendidikan berjenjang yang saling terhubung. Ia menyelesaikan S1 Pendidikan Biologi di IKIP Bandung, melanjutkan S2 Ilmu Kedokteran Dasar/Faal Manusia di Universitas Airlangga pada 1998, dan meraih gelar doktor Pendidikan Biologi dari Universitas Negeri Malang pada 2016.
Namun, kepakarannya berkembang lebih spesifik pada pembelajaran metakognitif. Ketertarikan ini muncul sekitar 2013, berawal dari sebuah seminar nasional.
“Metakognisi itu bagaimana seseorang bisa mengontrol cara berpikirnya,” jelasnya.
Dalam risetnya, Lina tidak berhenti pada konsep. Ia mengembangkan strategi pembelajaran inovatif seperti GITTW (Group Investigation dipadu Think Talk Write), yang terbukti mampu meningkatkan keterampilan metakognitif, memperkuat self-regulation, serta mendorong berpikir kreatif dan motivasi belajar.
Penelitiannya dipublikasikan di berbagai jurnal internasional bereputasi, seperti International Journal of Instruction, Humanities & Social Sciences Reviews, Journal of Baltic Science Education, hingga IJCRSEE (2025). Dengan rekam jejak publikasi terindeks Scopus.
Inovasi Pembelajaran di Era Digital
Tidak berhenti pada metode konvensional, Lina terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam riset terbarunya, ia mengembangkan model hybrid learning berbasis GITTW, modul biologi berbasis Augmented Reality (AR), hingga penguatan pembelajaran berbasis VR-STEM dan etnoekologi.
Melalui pendekatan metakognitif, ia menekankan pentingnya kesadaran berpikir dalam proses belajar. Peserta didik dilatih untuk merencanakan strategi belajar, memantau pemahaman, hingga mengevaluasi hasil yang diperoleh.Dengan demikian, proses belajar tidak lagi bersifat pasif, melainkan aktif dan penuh kesadaran.
Meski kini menyandang gelar guru besar, Lina tidak pernah menjadikannya sebagai ambisi utama.
“Saya jalani saja, kumpulkan syarat,” ujarnya sederhana.
Perjalanan itu ia tempuh sambil menjalani banyak peran sebagai dosen, ibu, istri, sekaligus pemimpin. Ia bahkan sempat menunda studi S3 cukup lama sebelum akhirnya menyelesaikannya di tengah kesibukan.
Dari sosok ayahnya yang bekerja di bidang keuangan namun hidup sederhana, Lina belajar satu nilai penting: integritas. Baginya, keberhasilan bukan tentang kemewahan, melainkan kejujuran dan kerja keras.
Lebih dari Sekadar Gelar
Hari ini, Prof. Lina Listiana bukan sekadar guru besar dalam bidang pembelajaran metakognitif. Ia adalah representasi dari ketekunan perjalanan panjang yang ditempuh tanpa banyak sorotan.
Dari seorang anak pendiam di sudut Bandung, penerima beasiswa sejak dini, hingga menjadi akademisi dengan kontribusi nyata bagi pendidikan nasional.
Kisahnya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling konsisten berjalan. Lina telah membuktikan bahwa ketekunan mampu membawa seseorang melampaui batas yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
(0) Komentar