Prof.Haidar Nashir saat melihat ChatHPT di Umsura (Istimewa)
Muhammadiyah menghadirkan inovasi digital melalui peluncuran ChatHPT, sebuah asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mempermudah masyarakat mengakses berbagai produk keilmuan Majelis Tarjih dan Tajdid.
Peluncuran ChatHPT berlangsung dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (11/11). Kehadiran layanan ini menjadi salah satu langkah Muhammadiyah dalam mengadaptasi perkembangan teknologi digital untuk memperluas jangkauan dakwah dan literasi keagamaan.
Peresmian ChatHPT ditandai dengan penekanan tombol oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Sukadiono, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Mundakir.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah menjelaskan, ChatHPT dikembangkan sebagai sarana untuk mendekatkan produk-produk keilmuan Tarjih kepada masyarakat melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.
Menurutnya, layanan tersebut memungkinkan kader Persyarikatan maupun masyarakat umum untuk mencari informasi dan mengajukan pertanyaan terkait berbagai persoalan keagamaan dengan merujuk pada dokumen resmi Majelis Tarjih.
“Melalui layanan ini, kader Persyarikatan maupun masyarakat luas dapat mengajukan pertanyaan seputar persoalan keagamaan dan memperoleh jawaban yang merujuk pada dokumen resmi Majelis Tarjih,” ujarnya.
Secara fungsional, ChatHPT dirancang untuk membantu pengguna menelusuri dan memahami berbagai putusan, fatwa, serta dokumen keagamaan yang diterbitkan Muhammadiyah. Setiap jawaban dilengkapi dengan sumber rujukan sehingga pengguna dapat memeriksa kembali dokumen yang menjadi landasan penjelasan.
Kehadiran ChatHPT juga menawarkan pendekatan baru dalam mengakses literatur keagamaan Muhammadiyah. Jika sebelumnya pengguna perlu mencari dan membaca dokumen secara manual, kini proses tersebut dapat dilakukan melalui interaksi percakapan digital yang lebih praktis dan mudah dijangkau.
Meski memanfaatkan kecerdasan buatan, ChatHPT tetap diposisikan sebagai instrumen pendukung dalam pencarian dan pemahaman sumber keagamaan. Teknologi ini tidak menggantikan otoritas keilmuan maupun kewenangan Majelis Tarjih dalam menetapkan fatwa dan keputusan keagamaan.
Melalui inovasi ini, Muhammadiyah berharap akses terhadap khazanah keilmuan Tarjih semakin terbuka dan inklusif. ChatHPT diharapkan dapat menjadi referensi digital bagi warga Muhammadiyah, akademisi, mubaligh, hingga masyarakat luas yang ingin memahami pandangan keagamaan Muhammadiyah.
(0) Komentar