Kuliah Sambil Bekerja, Faris Hafal 30 Juz dan Lulus Cumlaude dalam 3,5 Tahun Tanpa Skripsi

  • Beranda -
  • Berita -
  • Kuliah Sambil Bekerja, Faris Hafal 30 Juz dan Lulus Cumlaude dalam 3,5 Tahun Tanpa Skripsi
Gambar Berita Kuliah Sambil Bekerja, Faris Hafal 30 Juz dan Lulus Cumlaude dalam 3,5 Tahun Tanpa Skripsi
  • 02 Jun
  • 2026

Faris Khoirudin Wisudawan Umsura (Humas)

Kuliah Sambil Bekerja, Faris Hafal 30 Juz dan Lulus Cumlaude dalam 3,5 Tahun Tanpa Skripsi

Perjalanan kuliah tidak selalu berjalan mudah bagi setiap mahasiswa. Di tengah tuntutan akademik yang tinggi, sebagian mahasiswa juga harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan mengembangkan diri di luar kampus. Hal itulah yang dijalani Faris Khoirudin, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), yang berhasil lulus cumlaude dalam waktu 3,5 tahun, hafal 30 juz Al-Qur'an, sekaligus aktif bekerja selama masa perkuliahan.

Berasal dari keluarga sederhana, Faris mengaku sejak kecil telah ditanamkan nilai kemandirian, tanggung jawab, dan pentingnya pendidikan. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan proses panjang dan perjuangan yang menyertainya.

"Saya dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa keberhasilan harus diraih dengan usaha dan kesungguhan," ujarnya Senin (1/6/26)

Saat memilih melanjutkan pendidikan tinggi, Faris menjatuhkan pilihan pada Universitas Muhammadiyah Surabaya karena melihat lingkungan akademik yang mendukung sekaligus memiliki nilai-nilai keislaman yang kuat. Ia ingin berkembang tidak hanya secara intelektual, tetapi juga spiritual.

Sejak awal menjadi mahasiswa, Faris telah menetapkan sejumlah target. Ia bertekad menyelesaikan studi tepat waktu dengan prestasi terbaik, mandiri secara finansial, serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan bekerja sejak awal kuliah. Berbagai pekerjaan di bidang administrasi dan keuangan pernah ia jalani. Selain membantu memenuhi kebutuhan hidup, pengalaman tersebut menjadi sarana belajar yang memperkaya pemahamannya tentang dunia kerja.

"Saya ingin mandiri secara finansial dan tidak sepenuhnya bergantung kepada orang tua. Saya juga ingin mempersiapkan diri lebih matang sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional," katanya.

Menjalani kuliah dan pekerjaan secara bersamaan tentu bukan perkara mudah. Faris mengaku kerap menghadapi kelelahan fisik maupun mental. Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan pekerjaan, terutama ketika kondisi tubuh tidak prima.

Namun, ia memiliki strategi sederhana yang terus dijalankan, yakni disiplin dan kemampuan menentukan prioritas. Ia menyusun jadwal harian yang jelas antara kuliah, pekerjaan, ibadah, dan waktu istirahat.

"Kunci utamanya disiplin. Saya berusaha memanfaatkan waktu sekecil apa pun dengan maksimal," ungkapnya.

Di tengah kesibukan tersebut, Faris juga menorehkan pencapaian yang tidak kalah membanggakan. Ia berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an sebanyak 30 juz setelah menjalani proses yang panjang selama beberapa tahun.

Motivasi terbesarnya adalah menjaga Kalamullah dalam dirinya sekaligus memberikan kebanggaan kepada kedua orang tua. Untuk menjaga hafalan, ia rutin melakukan murojaah setiap hari, baik pada pagi maupun malam hari.

"Ada masa ketika hafalan terasa menurun, tetapi saya berusaha tetap konsisten dan tidak berhenti," tuturnya.

Menurut Faris, perjalanan menghafal Al-Qur'an mengajarkannya banyak hal, mulai dari kesabaran, konsistensi, hingga keikhlasan dalam menjalani proses. Ia menyebut peran orang tua dan para guru menjadi faktor penting yang menguatkan langkahnya hingga saat ini.

Dalam bidang akademik, Faris menerapkan strategi belajar yang berfokus pada pemahaman materi, bukan sekadar menghafal. Ia juga membiasakan diri mencatat, mengulang pelajaran, serta menyelesaikan tugas tepat waktu.

Kebiasaan sederhana tersebut membuahkan hasil. Faris berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude melalui jalur tugas akhir non-skripsi yang disediakan kampus. Ia memilih bentuk tugas akhir berupa karya ilmiah atau proyek yang memiliki bobot akademik setara dengan skripsi.

Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak diraih tanpa pengorbanan. Faris mengaku harus mengurangi waktu istirahat dan kenyamanan pribadi demi menjaga konsistensi menjalankan berbagai peran sekaligus.

Momen yang paling membekas baginya adalah saat berhasil menuntaskan pendidikan dan melihat kebanggaan terpancar dari wajah kedua orang tuanya.

"Itu menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam hidup saya," katanya.

Faris meyakini bahwa konsistensi dalam hal-hal kecil, seperti disiplin waktu dan menjaga rutinitas, dapat memberikan dampak besar dalam kehidupan. Ia juga mengaku pernah mengalami berbagai penolakan dan kegagalan, tetapi pengalaman tersebut justru membentuk mental yang lebih kuat.

Bagi mahasiswa Indonesia, Faris berpesan agar tidak takut menjalani proses dan terus bergerak maju meskipun langkah yang ditempuh terasa lambat.

"Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Fokuslah pada tujuan, jaga konsistensi, dan percaya bahwa setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil," pungkasnya.