Pameran Galery Walk Singapore Polytechnic kolaborasi Umsura (Humas)
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) International Community Service Learning Express (LeX) 2026 kolaborasi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dan Singapore Polytechnic memamerkan sejumlah prototipe inovatif hasil kolaborasi mahasiswa Indonesia dan Singapura dalam kegiatan Gallery Walk, Rabu (7/10/2026).
Selama sembilan hari, mahasiswa dari kedua institusi berkolaborasi mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus merancang solusi berbasis teknologi dan inovasi. Kegiatan tersebut menggunakan pendekatan design thinking yang menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai dasar dalam pengembangan solusi.
Dua lokasi menjadi fokus utama program LeX 2026, yakni Kampung Semanggi di Sememi, Kecamatan Benowo, Surabaya, dan Jago Karah Farm di Karah, Kecamatan Jambangan, Surabaya.
Di Kampung Semanggi, mahasiswa mempelajari pengembangan budidaya tanaman semanggi sekaligus usaha kuliner pecel semanggi yang menjadi bagian dari identitas lokal masyarakat. Persoalan yang dikaji meliputi sistem irigasi, proses panen, pengolahan hasil, efisiensi produksi, akses pasar, hingga aspek kesehatan dan keselamatan kerja petani.
Sementara itu, di Jago Karah Farm, mahasiswa mempelajari pengelolaan peternakan ayam yang menerapkan sistem closed-house. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga kebersihan kandang, mengurangi bau, serta meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas peternakan di kawasan perkotaan.
Dari proses observasi, wawancara, hingga pengembangan ide, mahasiswa menghasilkan sejumlah prototipe yang dirancang untuk menjawab persoalan di kedua lokasi.
Salah satunya adalah DIY Waste Scooper & Retractable Tray, yaitu inovasi pengelolaan limbah kandang yang menggabungkan alat pembersih dan nampan limbah dalam satu sistem. Inovasi ini dirancang untuk mempermudah proses pembersihan kandang sekaligus membantu pemisahan limbah.
Prototipe berikutnya adalah Energy Efficient Chicken Farm Structure, yang dirancang untuk meningkatkan sirkulasi udara di dalam kandang ayam. Sistem tersebut memanfaatkan lapisan isolasi pada atap, kipas ventilasi, serta tambahan bukaan di area dekat atap untuk menciptakan aliran udara yang lebih baik.
Mahasiswa juga mengembangkan Automated Chicken Feeder, alat pemberi pakan otomatis yang memungkinkan peternak memberikan pakan secara rutin dengan takaran yang telah ditentukan. Alat tersebut dapat diisi ulang dari bagian atas dan dilengkapi sekat untuk mengarahkan pakan menuju lubang keluaran sehingga mengurangi pakan yang tercecer. Sistem pengatur waktu digital juga dapat digunakan untuk menjadwalkan pemberian pakan secara otomatis.
Inovasi lainnya adalah BSF Farming Box, unit budidaya Black Soldier Fly (BSF) yang dirancang untuk menghasilkan larva sebagai pakan tambahan ayam. Teknologi ini diharapkan dapat membantu peternak memproduksi sebagian sumber pakan secara mandiri sehingga berpotensi menekan biaya operasional.
Pada aspek digital, mahasiswa mengembangkan Nutritional Website untuk Jago Karah Farm. Situs tersebut dirancang untuk memperkenalkan usaha peternakan, menyediakan informasi mengenai nutrisi ayam, sekaligus menghubungkan masyarakat melalui grup WhatsApp yang menyediakan informasi sumber daya peternakan, jadwal pengambilan, serta berbagai inisiatif komunitas. Pengembangan blog juga menjadi bagian dari rencana pengembangan platform tersebut.
Sementara di Kampung Semanggi, mahasiswa menghasilkan Sobar 3.0, mesin pemanen semanggi berbasis motor yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses panen sekaligus mengurangi risiko kesehatan fisik yang dapat dialami petani selama proses pemanenan.
Mahasiswa juga mengembangkan Kampoeng Semanggi Website sebagai platform digital untuk mendukung promosi dan pelestarian warisan Kampung Semanggi. Platform tersebut mengangkat sejarah kampung, mempromosikan produk lokal, serta memberikan peluang bagi pengunjung untuk memesan tur desa dan mendapatkan pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat setempat.
Kepala Lembaga Riset Inovasi dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) Umsura, Arin Setyowati, mengatakan seluruh proses pengembangan inovasi dilakukan dengan pendekatan design thinking.
“Melalui metode design thinking, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari proses tersebut, mereka kemudian merancang solusi hingga menghasilkan prototipe alat yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi produk,” ujar Arin.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan LeX dibagi ke dalam enam tahapan utama, yakni Sense and Sensibility, Define, Ideation, Prototyping, Co-Creation, dan Gallery Walk.
Menurut Arin, setiap tahapan memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk tidak hanya memahami persoalan masyarakat, tetapi juga mengembangkan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin dan lintas budaya.
Selain kegiatan pengembangan inovasi, peserta LeX juga mengikuti program cultural immersion di sejumlah destinasi ikonik Surabaya, seperti Museum Tugu Pahlawan dan Kenjeran Park.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam program untuk memperkaya pengalaman lintas budaya mahasiswa dari Indonesia dan Singapura. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat serta eksplorasi budaya lokal, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pemahaman sosial dan budaya.
Sementara itu, Radius Setiyawan Wakil Rektor Bidang Riset Kerjasama dan Digitalisasi mengatakan, melalui program Learning Express, kolaborasi dengan Singapore Polytechnic dapat terus berkembang menjadi ruang pembelajaran internasional yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kerja sama global, mendorong inovasi berbasis kebutuhan masyarakat, serta mengembangkan solusi berkelanjutan untuk menjawab berbagai tantangan di lingkungan perkotaan,”pungkasnya.
(0) Komentar