Wakil Gubernur Jatim saat mengunjungi Pameran Produk KKN (Humas)
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) 2026 menghasilkan 38 produk inovasi teknologi tepat guna. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong agar karya mahasiswa tersebut tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi terus dikembangkan hingga menjadi produk yang benar-benar digunakan dan memiliki nilai ekonomi.
Dorongan itu disampaikan Emil saat menghadiri expo hasil KKN UMSURA di Balai Pemuda Surabaya. Menurut Emil, lokasi tersebut tepat untuk mempertemukan karya mahasiswa dengan masyarakat karena Balai Pemuda menjadi salah satu pusat kegiatan yang banyak diminati warga.
“Balai Pemuda ini adalah salah satu pusat kegiatan yang diminati oleh warga. Tempat yang sangat tepat untuk menyajikan karya-karya para mahasiswa langsung ke tengah masyarakat,” kata Emil.
Emil mengapresiasi 38 karya yang dihasilkan mahasiswa. Menurutnya, mengubah karya atau hasil penelitian menjadi produk yang siap digunakan dan dijual bukan proses sederhana. Namun, tahapan tersebut harus terus dikejar agar inovasi perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak.
“Saya tadi mendengar ada 38 karya, atau boleh dikatakan bahkan produk. Dari karya kemudian menjadi sebuah produk yang siap jual, tentu memang bukan perjalanan yang mudah. Tetapi harus kita kejar ke sana,” ujarnya.
Dari 38 karya tersebut, Emil menyebut 11 di antaranya telah mendapatkan pengakuan hak cipta sederhana. Sementara 26 produk lainnya sedang dalam proses memperoleh paten.
Ia menilai capaian tersebut menjadi prestasi yang patut diapresiasi. Namun, perlindungan kekayaan intelektual tersebut harus diikuti dengan proses pengembangan produk agar inovasi mahasiswa tidak berhenti pada tahap administratif.
“Dari 38, tadi ada 11 yang sudah bisa meraih pengakuan hak cipta sederhana. Itu prestasi. Lalu yang 26, proses memperoleh paten. Jadi ini proses yang memang harus diikuti dengan paten,” katanya.
Emil berharap Pemprov Jatim bersama Pemkot Surabaya dan UMSURA dapat terus mengawal perjalanan 38 produk tersebut. Ia membayangkan produk hasil KKN suatu saat bisa masuk dalam ekosistem pengadaan pemerintah melalui e-katalog.
“Harapannya jangan berhenti di sini. Produk ini kita kawal terus bareng-bareng dengan Pemkot, dengan Pemprov. Siapa tahu suatu saat kalau pemerintah mencari produk-produk pertanian misalnya, itu sudah tersedia di e-katalog. Dan itu berawal dari KKN-nya Universitas Muhammadiyah Surabaya,” tuturnya.
Menurut Emil, keberhasilan teknologi tepat guna harus diukur dari seberapa jauh inovasi tersebut bisa digunakan masyarakat. Ia mengingatkan agar hasil penelitian dan karya mahasiswa tidak sekadar menjadi koleksi yang tersimpan di kampus.
“Kita tidak lagi bicara wacana atau retorik. Konkretnya seperti apa. Makanya istilahnya digunakan teknologi tepat guna. Kepakai. Teknologi yang tidak hanya menjadi penelitian yang menghiasi rak-rak, tetapi menjadi barang atau perangkat yang bisa digunakan langsung oleh masyarakat,” tegas Emil.
Karena itu, Emil meminta agar perjalanan seluruh produk tetap dipantau setelah expo berakhir. Ia juga meminta data lengkap 38 karya tersebut agar dapat melihat perkembangan dan pemanfaatannya ke depan.
“Saya pastikan bahwa keseluruhan 38 itu, saya mohon datanya. Kita akan sangat tertarik untuk bisa melihat perjalanan 38 karya ini ke depannya,” ujarnya.
Emil bahkan mendorong Jawa Timur menjadi laboratorium hidup atau living laboratory bagi pengembangan teknologi tepat guna hasil karya mahasiswa. Menurut dia, luasnya wilayah dan beragamnya persoalan masyarakat Jawa Timur membuka ruang pengabdian yang sangat besar.
“Jadikanlah Jawa Timur sebagai laboratorium hidup atau living laboratory untuk karya-karya nyata,” katanya.
Ia juga menyinggung perkembangan artificial intelligence (AI) yang saat ini menjadi perhatian besar. Menurutnya, mahasiswa memang perlu mempelajari AI, tetapi teknologi tepat guna yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung juga harus terus dikembangkan.
“Sekarang lagi ramai AI dan segala macam, bagus pelajari AI. Tapi saya juga ingin lihat teknologi tepat guna ini. Jangan-jangan juga ada yang pakai AI atau yang memang terkait dengan sektor yang lain,” tutur Emil.
Libatkan 1.292 Mahasiswa
Sementara itu, Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) UMSURA, Dr. Arin Setiyowati, S.H.I., M.A., mengatakan KKN 2026 diikuti 1.292 mahasiswa.
Mereka tersebar di enam kabupaten/kota di Jawa Timur, yakni Surabaya, Gresik, Pasuruan, Kediri, Nganjuk, dan Probolinggo. Para mahasiswa terbagi dalam 48 kelompok dan menghasilkan 38 produk inovasi teknologi tepat guna.
KKN tahun ini mengusung tagline “Simfoni Inovasi, Berakar Lokal, Berdampak Global.”
Arin mengatakan, 38 produk tersebut diarahkan untuk memasuki tahap uji pakai sehingga dapat benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, terdapat produk yang telah siap memasuki tahap produksi.
“Alhamdulillah KKN tahun 2026 ini diikuti 1.292 mahasiswa, tersebar di enam kabupaten/kota di Jawa Timur. Ada 48 kelompok menghasilkan 38 produk inovasi teknologi tepat guna yang insyaallah akan menjadi produk siap uji pakai dan digunakan,” kata Arin.
Menurut Arin, inovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen UMSURA agar pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berupa kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kami berupaya menghadirkan inovasi kegiatan yang dapat memberikan manfaat dan menjadi solusi atas permasalahan masyarakat,” ujarnya.
Selama pelaksanaan KKN, LRIPM UMSURA juga melakukan monitoring dan evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan sekitar 90 persen masyarakat maupun mitra mengaku puas dengan kehadiran mahasiswa KKN.
Arin mengatakan, mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki kepada warga.
“Sekitar 90 persen masyarakat atau mitra kami merasa puas dengan kehadiran teman-teman KKN bersama warga. Mereka belajar dan kemudian mentransfer ilmu yang dimiliki kepada masyarakat,” katanya.
Kampus Berdampak
Rektor UMSURA, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua, mengapresiasi karya dan inovasi yang dihasilkan mahasiswa selama pelaksanaan KKN.
Menurut Mundakir, capaian tersebut tidak terlepas dari kontribusi para dosen pembimbing yang mendampingi mahasiswa selama menjalankan pengabdian di lapangan.
“Saya ucapkan terima kasih kepada para pembimbing KKN dan tentu juga mahasiswa yang terus berkarya, berinovasi sesuai dengan tagline kita, sesuai dengan tema KKN kita, Simfoni Inovasi, Berakar Lokal, Berdampak Global,” kata Mundakir.
Ia mengatakan, kegiatan KKN juga menjadi bagian dari upaya UMSURA mengimplementasikan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang mendorong perguruan tinggi menjadi institusi yang berdampak bagi masyarakat.
“Keberadaan perguruan tinggi, termasuk kampus kita, terus berinovasi untuk menjadi kampus yang berdampak, untuk menjadi individu-individu intelektualitas yang punya dampak ke masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Mundakir menegaskan, peran tersebut telah dijalankan melalui keterlibatan dosen sebagai pembimbing dan mahasiswa yang selama sekitar satu bulan terjun langsung ke berbagai wilayah.
Menurutnya, karya yang lahir dari KKN menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat menggabungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.
Dengan 38 inovasi teknologi tepat guna yang dihasilkan, UMSURA berharap KKN tidak berhenti sebagai program akademik, tetapi berkembang menjadi ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
Karya-karya tersebut diharapkan dapat terus dikawal melalui proses uji pakai, perlindungan kekayaan intelektual, produksi, hingga pemanfaatan oleh masyarakat. Dengan demikian, semangat “Berakar Lokal, Berdampak Global” tidak hanya menjadi tagline, tetapi benar-benar diwujudkan melalui produk yang hadir dan digunakan di tengah masyarakat.
(0) Komentar