Viral Bocah Empat Tahun di Sampang Kecanduan Aroma Bensin, Ini Kata Dosen UM Surabaya

research
Foto bocah mencium aroma bensin di Dusun Gendis, Desa Rabasan Kecamatan Camplong Sampang (Dok: jatimnow.com)


Media sosial dihebohkan oleh bocah empat tahun di Sampang Madura Jawa Timur yang kecanduan aroma bensin. Hal tersebut menarik perhatian Ira Purnamasari Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UM Surabaya untuk memberikan tanggapan.

Diketahui, bocah atas nama Alifa tersebut sudah kecanduan menghirup aroma bensin sejak menginjak usia tiga tahun. Alifa menghirup aroma dari lubang botol. Jika tidak diizinkan Alifa menangis sehingga orang tuanya menyiapkannya setiap hari.

Menurut Ira kecanduan menghirup aroma bensin setara dengan kecanduan narkoba. Pasalnya bensin termasuk bahan kimia bergas yang memiliki aroma kuat, bensin merupakan bahan bakar yang mengandung benzena yang jika dihirup secara terus menerus akan membuat otak kecanduan (adiktif).

“Saat aroma bensin dihirup mengalir dari paru-paru menuju ke jantung yakni sistem peredaran darah dan menuju ke otak, secara otomatis bahan kimia beracun yang dihirup akan merusak paru-paru, jantung, otak, hati dan ginjal,”jelas Ira Selasa (14/6/22)

Menurutnya dalam waktu beberapa detik saat anak menghirup bensin, anak tersebut akan mengalami fly atau euphoria, merasa santai, ringan yang disertai dengan mati rasa. Kebiasaan berbahaya ini menyebabkan aktivitas otak melambat dan menekan sistem saraf pusat.

“Jika dilakukan secara terus menerus, maka akan merusak saraf mengakibatkan penurunan kemampuan bicara, penurunan ingatan, berpikir lambat, disorientasi, agresif, halusinasi, hilang kesadaran, kejang hingga kematia,”imbuhnya lagi.

Selanjutnya ia menegaskan hal ini perlu segera dihentikan, sebab untuk mencegah adanya kerusakan fungsi pada organ tubuh si anak. Pentingnya ketegasan pada orang tua untuk melarang anaknya walaupun anak tersebut menangis, marah, maupun berteriak.

Selain memberikan penjelasan kepada anak mengenai bahaya menghirup aroma bensin, orang tua juga bisa memberikan pendekatan dengan mengalihkan perhatian anak kepada mainan-mainan yang disukai anak, dan segera membawa anak ke rumah sakit untuk berkonsultasi terkait kesehatan mental dan fisik anak.