Tren Penyakit Jantung Diderita Usia Produktif: Ini Penjelasan Pakar Kesehatan UM Surabaya

research
Ilustrasi foto (Shutterstock)


Penyakit jantung koroner masih menjadi pembunuh nomer satu di dunia dan mengakibatkan 18,6 juta kematian per tahun. Angka tersebut semakin meningkat bukan hanya di usia lanjut  tetapi juga menyerang usia produktif. Hal ini disebabkan karena pola hidup tidak sehat sudah dimulai sejak usia sekolah.

Muhammad Perdana Airlangga Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UM Surabaya yang juga merupakan Pakar spesialis jantung menjelaskan bahwa pola hidup tidak sehat antara lain merokok, kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji, obesitas dan aktivitas fisik yang rendah.

“Ada kasus pasien yang sudah kena serangan jantung dan sudah pasang ring usia 28 tahun dan ternyata memiliki kebiasaan merokok 1 pack sehari sejak usia 6 tahun,”ujar Angga, Selasa (7/6/22)

Menurutnya gejala yang sering muncul  adalah nyeri dada kiri dan sesak napas. Biasanya penderita menganggap sebagai angin duduk sehingga datang ke rumah sakit sudah timbul komplikasi.

“Prinsip penanganan serangan jantung adalah  time is muscle” yang artinya setiap menit keterlambatan penanganan maka otot jantung akan kekurangan oksigen sehingga otot jantung lambat laun tidak berfungsi,”imbuhnya lagi.

Selanjutnya ia menegaskan upaya- upaya preventif untuk mencegah terjadi serangan jantung pada usia produktif perlu dilakukan karena dampak yang lebih serius akan terjadi seperti kematian mendadak, menurunnya produktivitas dan psikologis penderita akibat penurunan fungsi jantung.

Model pendekatan promotif  di era 4.0 perlu dilakukan kepada generasi muda terutama generasi Z misalnya penerapan zona bebas rokok yang sangat terbatas, kolaborasi dengan influencer untuk kampanye hidup sehat di media sosial dan masih banyak inovasi-inovasi yang lain.

“Selain itu perlu adanya screening pada usia produktif dimana didapatkan riwayat keluarga dengan penyakit kronis dan riwayar meninggal mendadak, dan peningkatan fasilitas kegawatdaruratan jantung di rumah sakit tiap daerah sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan serangan jantung yang mengakibatkan kematian dan kecacatan,”pungkasnya.