Terima Penyambutan Secara Simbolik, Mahasiswa KKN-

research


UMSurabaya- Kamis (18/02), bertempat di gedung at-Tauhid Tower UMSurabaya adakan penyambutan kedatangan ke-17 mahasiswa yang telah menyelesaikan program KKN-PPL Internasional. Penyambutan dilakukan secara simbolik oleh pimpinan rektorat UMSurabaya. Program KKN-PPL tersebut telah menjadi program rutinan yang bersifat wajib dan ditujukan untuk mengasah jiwa sosial, disamping sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pembelajaran yang didapatkan di bangku perkuliahan di masyarakat.

Menurut rencana yang dipaparkan oleh wakil rektor UMSurabaya Aziz Alimul Hidayat, Program KKN-PPL Internasional yang rutin diagendakan oleh dua fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Agama Islam (FAI), akan direalisasikan sebagai agenda wajib bagi fakultas lain seperti Fakultas Ekonomi (FE) dan Fakultas Psikologi (FPSI). KKN-PPL pada tahun sebelumnya dilaksanakan di negara Kamboja dan pada periode 2017-2018 diadakan di negara Thailand selatan.

Fadhila Fauziana Lubis, selaku perwakilan peserta KKN-PPL menjelaskan berbagai kendala yang dihadapi saat jalannya kegiatan adalah kurangnya penguasaan bahasa Inggris yang baik dari para warga setempat. Dirinya bersama rekan mahasiswa yang lain mengaku menghadapi tantangan adaptasi selama tiga bulan berbaur dengan masyarakat Thailand. Tantangan yang dihadapi mereka selain penyesuaian bahasa adalah adaptasi dengan cita rasa masakan khas warga setempat. Fauziana atau yang akrab disapa Zia tersebut menyatakan dirinya beserta rekannya bahkan harus sering menggunakan google translate untuk dapat berkomunikasi dengan warga.

“Disana saya ditempatkan di kantr kecamatan ada beberapa dari teman saya yang di sekolah-sekolah, yang disekolah mulai mengajar dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Biasanya saya dan beberapa teman-teman yang ditempatkan di kantor kecamatan membantu wrga membersihkan masjid, jalan raya dan pembagian sembako. 2 minggu sekali ada pameran UKM jadi setiap produk dari masyarakat Thailand di presentasikan. Tidak ada kendala yang serius disana hanya saja kendala dalam bahasa karena mayoritas msyarakat yang disana tidak bisa berbahasa inggris. Saya dan teman-teman harus menggunakan google translate untuk berkomunikasi dengan mereka” tutur Zia.

Zia pun menuturkan perlunya pengadaan survei tempat untuk memperjelas jenis kegiatan yang akan diadakan di lokasi tujuan. Hal itu dirasa penting untuk meminimalisir kendala-kendala yang sangat memungkinkan rumit jika diatasi. (rat/fa)