Soal Kasus Selebgram yang Ajak Balita Naik Jetsky Tanpa Jaket Pengaman, Ini Kata Dosen UM Surabaya

research
Ria Ricis tuai kecaman usai mengunggah konten bersama anaknya bermain jetski. (Foto: Instagram @riaricis1795)


Belakangan ini netizen dihebohkan dengan video selebgram yang mengajak anaknya berusia balita menaiki jetsky. Masyarakat memusatkan  perhatian pada kelengkapan alat pelindung serta anak yang tidak digendong dengan sebuah baby carrier.

Kasus yang ramai di media sosial tersebut ditanggapi langsung oleh Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UM Surabaya Holy Ichda Wahyuni. Holy yang juga merupakan aktivis perempuan menyebut kejadian tersebut sangat disayangkan, apalagi yang melakukan adalah seorang publik figure.

“Seperti yang kita tahu bahwa melalui media sosial, seorang publik figur selalu berhasil memunculkan tren yang bisa berpotensi ditiru oleh masyarakat, terlepas dari apa yang dilakukan memiliki dampak positif ataupun negatif,”jelas Holy Jumat (13/1/23)

Menurutnya, bukan hal keliru memberikan sebuah pengalaman baru bagi anak dalam masa tumbuh kembangnya untuk bereksplorasi. Misalkan dengan mengajaknya bermain di alam terbuka, atau  outdoor.

Namun yang perlu ditekankan adalah aspek keamanannya. Sebab seseorang tidak pernah tau bahaya yang akan muncul, bisa dari faktor alat atau wahana yang digunakan maupun human error.

“Maka yang bisa kita lakukan adalah berjaga-jaga, selalu waspada, mengupayakan keselamatan dan tindakan preventif lainnya dalam setiap kondisi, dengan memperkecil risiko,”imbuh dia.

Selain itu, melibatkan anak dalam melakukan sesuatu yang terlalu tinggi resiko, juga bisa menyebabkan trauma pada anak.

Menurutnya, beberapa hal perlu diperhatikan orang tua ketika mengajak anak bermain atau mencoba hal baru adalah: Pertama dengan memperhatikan kelengkapan atau pelindung diri untuk keselamatan. Kedua memilih wisata, atau lokasi yang ramah anak. Ketiga menyesuaikan jenis permainan dengan usia anak dan terakhir melihat respon anak terlebih dahulu ketika memberi stimulasi dalam tumbuh kembangnya.

“Dalam hal ini orang tua seyogyanya peka ketika anak mulai merasa tidak nyaman. Maka stimulasi bisa dimulai dari hal ringan, agar stimulasi bisa secara bertahap. Hal ini juga untuk menghindari terjadinya over stimulasi,”pungkas Holy.