Ramai Kasus Penculikan Anak, Dosen UM Surabaya: 6 Hal Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua

research
Ilustrasi gambar (Shutterstock)


Kasus penculikan anak beberapa hari ini ramai diperbincangkan masyarakat bahkan menyita perhatian publik di media sosial. Dosen  Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UM Surabaya Holy Ichda Wahyuni juga turut memberikan tanggapan.

Menurut Holy, persoalan perlindungan anak, meski dianggap menjadi tanggung jawab sentral orang tua, namun upaya tersebut akan lebih optimal dengan pelibatan banyak pihak.

“Kita bisa sebut dengan istilah "sekampung menjaga", artinya rasa kepedulian dan awareness juga harus dimiliki oleh setiap individu sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki keterkaitan kehidupan bersosial,”kata Holy Kamis (5/1/23)

Ia mencontohkan, ketika seseorang melihat seorang anak sendirian, atau gelisah di tempat yang sepi dan berpotensi menjadi korban tindakan penculikan, atau tindakan kekerasan lainnya maka seyogyanya orang tersebut harus sigap menanyai keadaannya, dan mengkonfirmasi apakah dia sedang membutuhkan bantuan.

“Atau jika kita ingin lebih aman, kita bisa meminta bantuan orang di sekitar seperti petugas keamanan untuk turut serta, mengkonfirmasi keadaan anak tersebut,”imbuhnya lagi.

Dalam keterangan tertulis, Holy memberikan sejumlah tips untuk melindungi anak dari upaya penculikan. Menurutnya untuk para orang tua, hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan pengawasan terhadap anak, terutama ketika bermain di luar rumah, bahkan bila perlu anak  didampingi oleh anggota keluarga (orang dewasa, seperti kakak).

Kedua, memberi edukasi kepada anak, untuk menolak ajakan orang tidak dikenal, menolak pemberian orang tidak dikenal

Ketiga, tidak mengenakan perhiasan berlebihan pada anak agar tidak mengundang kriminalitas.

Keempat, mengajari anak untuk mengetahui nama orang tua, alamat rumah, kontak orang tua.

Kelima, menghimbau agar anak menghindari menunggu jemputan di luar area sekolah, sebaiknya anak menunggu jemputan di dalam area sekolah.

Terakhir, orang tua harus aktif mengenal lingkungan sekolah anak, termasuk mengenal guru-guru di sekolah, petugas keamanan sekolah, hal ini dilakukan agar mereka dapat mawas ketika mengetahui yang menjemput anak bukan orang tua, melainkan orang lain yang dikhawatirkan memiliki maksud jahat.

Sementara bagi sekolah, tanggung jawab pengawasan bukan hanya saat jam pembelajaran, tetapi memastikan orang yang berkomunikasi atau menjemput anak setelah pembelajaran usai adalah benar-benar keluarga terdekat.

“Jika yang menjemput anak, bukan anggota keluarga yang biasanya, sekolah perlu mengonfirmasi dengan menghubungi nomor kontak orang tua siswa,”tegasnya lagi.

Terakhir, sekolah melaksanakan program pemberian edukasi tentang menolak ajakan orang tidak dikenal, menolak pemberian orang tidak dikenal, dan mitigasi ketika sedang diintimidasi orang asing sebagai upaya perwujudan  sekolah ramah anak.