Dosen UM Surabaya: Bekerja Terlalu Berlebihan Picu Burnout, Begini Cara Mengatasinya

research
Ilustrasi burnout (pexels)


Setiap orang akan berupaya maksimal agar dapat menyelesaikan target yang menjadi tanggung jawabnya di tempat kerja. Namun upaya maksimal ini tanpa disadari sering muncul dalam bentuk kerja berlebihan.

Tidak jarang, banyak pekerja sering mengeluh kelelahan, dan situasi ini biasanya dipicu karena upaya kerja kurang dihargai, kurang mendapat dukungan dari atasan, perlakuan yang tidak adil, peran dan distribusi tugas yang tidak jelas, deadline yang mepet, hinggga lingkungan kerja yang toxic atau manajemen lingkungan kerja yang tidak sehat.

Uswatun Hasanah Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UM Surabaya sekaligus Pakar Kesehatan Jiwa menjelaskan, jika seseorang sering merasa lelah saat berhadapan dengan setumpuk pekerjaan, seseorang perlu mewaspadai munculnya BOS (Burn Out Syndrom).

“Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental maupun emosional, yang disebabkan oleh stres yang berkepanjangan atau berulang yang umumnya terjadi disebabkan oleh masalah di tempat kerja dan belum berhasil dikelola,”terang Uswatun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan burnout dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai fenomena pekerjaan, sebagai kondisi non medis.

“Kondisi burnout ini secara umum ditandai dengan tiga dimensi yaitu munculnya perasaan kehabisan energi atau kelelahan, peningkatan jarak mental terhadap pekerjaan atau perasaan negatif dan sinis terkait pekerjaan dan penurunan kinerja secara professional,”imbuhnya lagi.

Menurut Uswatun, kondisi burnout perlu ditangani dengan tepat karena dapat mempengaruhi kinerja dan profesionalitas kita dalam bekerja, penurunan  motivasi serta dapat menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental yang menetap.

Secara sederhana mengatasi burn out dapat dilakukan dengan pendekatan “3R” Recognize artinya mengenali  atau  memperhatikan tanda gejala munculnya kelelahan dalam bekerja. Reverse artinya putar balik keadaan dengan mencari dukungan sosial dan managemen stress. Reselience artinya bangun ketahanan terhadap stress dengan menjaga pola hidup agar kesehatan fisik dan mental terjaga.

Uswatun juga membagikan lima cara untuk mencegah terjadinya burnout. Pertama menyadari batasan diri dan berani mengatakan “Tidak”. Seseorang perlu menyadari batas kemampuan diri dalam bekerja, sehingga tidak menerima semua beban pekerjaan yang diberikan termasuk yang bukan bagian dari jobdesknya.

“Berani mengatakan “Tidak” memang sesuatu yang menantang namun tidak ada salahnya kita menolak beberapa pekerjaan yang bukan merupakan bagian dari tanggung jawab divisi kita sehingga beban kerja juga ikut berkurang,”tegasnya.

Cara yang kedua adalah gunakan skala prioritas. Salah satu hal yang paling efektif dalam menyelesaikan pekerjaan adalah dengan menyusun prioritas kerja yang harus diselesaikan. Seseorang dapat menyusun list pekerjaan menggunakan strategi deadline ataupun dengan menyelesaikan pekerjaan yang dirasa paling mudah lebih dulu.


Ketiga tetap lakukan interaksi. Interaksi dengan lingkungan sekitar merupakan salah satu cara mendistraksi diri dari stress yang dirasa saat bekerja.

“Keempat adalah manajemen waktu. Atur waktu anda dengan baik, jika sudah waktunya beristirahat maka manfaatkan waktu istirahat tersebut dengan baik, kurangi melakukan hal-hal yang bersifat pribadi saat bekerja,”imbuhnya.

Terakhir adalah manajemen stress. Manajemen stress dapat dimulai dengan mengiidentifikasi stressor dan gejala stress yang sering muncul, mengembangkan pola hidup sehat dengan makanan yang bergizi, tidur dan istirahat yang cukup.

“Saat kelelahan muncul, lakukan sedikit perengangan dan relaksasi dengan napas dalam dan juga distraksi yang dapat dilakukan dengan berjalan-jalan keluar ruangan, menikmati makanan atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar,”tandasnya.