Dosen FK UM Surabaya: Cegah Penyebaran Virus Hendra dengan Cara Ini

research
Foto AP/Silvia Izquierdo (CNBC)


Dunia kembali dihebohkan dengan kemunculan virus baru, yakni Hendra virus (HeV). Padahal pandemi Covid-19 belum sepenuhnya usai.

HeV pertama kali ditemukan pada tahun 1994 dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernapasan dan neurologis pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran kota Brisbane, Australia.

Yuli Wahyu Rahmawati Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UM Surabaya yang juga spesialis dermatovenereologist menjelaskan virus Hendra disebabkan oleh virus Hendra sebelumnya atau yang disebut Equine Morbillivirus yang tergolong dalam Genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.

“Virus Hendra dapat menular dari inang alami flying fox kelelawar dari genus Pteropus ke hewan lain dan ke manusia (zoonosis). Penularan virus Hendra ke manusia dapat terjadi setelah terpapar cairan dan jaringan tubuh atau kotoran kuda yang terinfeksi virus Hendra,”Tutur Yuli, Senin (30/5/22)

Menurut keterangan tertulis Yuli menjelaskan kuda dapat terinfeksi setelah terpapar virus dalam urin flying fox yang terinfeksi.

Sementara gejala klinis virus Hendra adalah setelah inkubasi 9-16 hari, pasien akan mengalami infeksi saluran pernapasan seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan. Pada beberapa kasus berkembang menjadi ensefalitis yang fatal. Meskipun penyakit ini jarang, namun angka kematian Case Fatality Rate (CFR) pada manusia tergolong tinggi yaitu 57%. Diagnosis pasti penyakit virus hendra melalui pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

“Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus ini, sehingga pengobatan bersifat simptomatis dan supportif, namun ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan,”jelas Yuli.

Menurutnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan, konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, etika batuk dan bersin  menghindari perburuan hewan liar perlu dilakukan.

Pertama hindari kontak dengan hewan ternak (seperti kuda) yang kemungkinan terinfeksi. Bila kontak gunakan alat pelindung diri. Gejala pada hewan yang terinfeksi meliputi saluran pernapasan dan neurologi seperti demam, kesulitan bernafas, ataksia.

“Konsumsi daging secara matang  dan tidak mengonsumsi produk buah langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat terkontaminasi,”imbuhnya lagi.

Selanjutnya adalah tidak menambahkan tanaman buah sebagai sumber makanan kelelawar sekitar peternakan. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh dan buah buah yang memiliki tanda gigitan kelelawar

Bagi petugas kesehatan terapkan pencegahan dan pengendalian infeksi.Menghindari kontak langsung dengan orang yang dicurigai atau terinfeksi termasuk cairan tubuhnya.

Yuli menerangkan sampai saat ini belum ditemukan kasus penyakit virus hendra pada manusia maupun hewan ternak di Indonesia. Namun berdasarkan studi serologi kalong menunjukkan bahwa sebanyak 22, 6% kalong spesies Pteropus Vampyrus di Kalimantan Barat dan sebanyak 25% P. Alecto di Sulawesi Utara mengandung antibodi terhadap virus Hendra.