Dosen FAI UM Surabaya: Begini Tata Cara Salat Tahajud yang Benar Menurut Rasulullah

research
Ilustrasi foto (Istockphoto)


Shalat Tahajud merupakan salah satu shalat sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Ia merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari antara setelah shalat Isya hingga sebelum masuk waktu  Subuh. Namun demikian, waktu yang paling baik untuk melakukannya adalah pada sepertiga akhir malam, didasarkan pada Hadits Riwayat Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majjah.

Fajar Gandung Panjalu Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UM Surabaya menjelaskan Shalat Tahajud disebut juga sebagai Shalat Lail atau Qiyamullail karena pelaksanaannya dilakukan pada malam hari. Selain itu, ia disebut juga Shalat Witr karena dilaksanakan dengan jumlah raka’at ganjil. Shalat Tahajud dapat dilakukan secara sendirian, serta boleh pula dilaksanakan secara berjamaah.

“Sebelum melakukan Shalat Tahajud, dapat diawali dengan melakukan shalat pembuka yang ringan (shalat iftitah), yakni shalat dua rakaat dengan membaca fatihah saja dalam setiap raka’atnya, tanpa membaca surat pendek sebagaimana biasanya dalam shalat. Adapun bacaan pada gerakan shalat yang lain (Ruku’, I’tidal, Sujud, dll) tetap dilakukan sebagaimana biasa,”tutur Gandung Jumat (10/6/22)

Gandung menjelaskan dalam melaksanakan Shalat Tahajud, Rasulullah melaksanakan dengan beberapa cara, antara lain dengan formasi raka'at 4-4-3 yakni dengan 4 raka’at tanpa tasyahud awal pada raka’at kedua, dilanjut dengan 4 raka’at tanpa tasyahud awal pada raka’at kedua, lalu ditutup dengan 3 raka’at tanpa tasyahud awal pada raka’at kedua.

“Bisa pula dilakukan dengan formasi 2-2-2-2-2-1, yakni lima kali shalat dua raka’at dan ditutup dengan satu raka’at. Kedua formasi tersebut menghasilkan jumlah raka’at yang sama, yakni sejumlah 11 raka’at. Apabila ditambahkan dengan shalat iftitah maka terhitung 13 raka’at,”imbuhnya lagi.

Menurut Fajar salah satu di antara hikmah Shalat Tahajud dapat kita temukan dalam Q.S Al-Isra’ ayat 79, dimana Shalat Tahajud diharapkan dapat menjadi sarana naiknya derajat kita di hadapan Allah kepada derajat yang lebih baik (maqoman mahmudan).

“Karena besarnya hikmah shalat tahajud, maka sebaiknya seorang Muslim membiasakan diri untuk bangun pada akhir malam guna melakukan shalat sunnah ini. Namun demikian, apabila seorang muslim khawatir tidak dapat bangun pada sepertiga malam terakhir, ia dapat melaksanakan setelah shalat isya, sebelum menuju pembaringan untuk beristirahat,”jelasnya.

 Ia menerangkan dalam suatu hadist “jika seseorang setelah melakukan shalat witir usai shalat isya kemudian ia tidur lalu terbangun lagi pada akhir malam, ia tidak perlu mengulangi shalatnya, didasarkan pada hadits Rasulullah yang menyebutkan “Tidak ada dua witir dalam satu malam” (HR Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i)