Angkat Tema Lokalitas, Gender dan Desa Wisata, KKN UM Surabaya Terinspirasi Film KKN Desa Penari

research
Foto pemotongan tumpeng hasil bumi saat pelepasan KKN UM Surabaya oleh Rektor UM Surabaya dan Pemprov Jatim (Dok: Humas)


Film KKN Di Desa Penari baru-baru ini sukses menjadi film horor Indonesia terlaris sepanjang masa. Film ini berhasil mencapai 9,3 juta penonton sejak tayang perdana pada 30 April 2022.

Angka itu sebanding dengan kualitas film KKN di Desa Penari yang hadir dengan visual memanjakan mata, teror horor yang kuat, aktor dan aktris dengan jam terbang tinggi, hingga banyaknya pesan moral yang didapat dari film tersebut.

Banyaknya pesan yang bisa diambil dari film tersebut menarik perhatian KKN UM Surabaya untuk mengambil beberapa tema seperti pada film horor tersebut.

Sukadiono rektor UM Surabaya menjelaskan tahun 2022 mengambil tema besar "Bangkit dan Berkarya Menuju Masyarakat Berdaya".

"Selain permasalahan pendidikan dan ekonomi, dalam pelaksanaan KKN ini kami juga mengusung berbagai program untuk penuntasan masalah stunting, terlebih di Jawa timur angka stunting masih tinggi,"jelas Suko.

Ia berharap mahasiswa KKN UM Surabaya yang dilepas hari ini akan memberikan kontribusi besar di tengah masyarakat pasca pandemi, khususnya ide gagasan nyata untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Suko juga menambahkan bahwa KKN UM Surabaya tahun ini tersebar di Papua, Makassar dan 6 Kabupaten di Jawa Timur diantaranya Lamongan, Bojonegoro, Jombang, Lumajang dan Pamekasan sejumlah 1.026 mahasiswa.

Semenatara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Dede Nasrullah menjelaskan bahwa tema yang diangkat terinspirasi dari KKN di Desa Penari yang akhirnya melahirkan sebuah gagasan yang mengaitkan program KKN mahasiswa dengan tema lokalitas, gender dan desa wisata.

“Sebenarnya tidak hanya 3, KKN tahun ini memiliki 9 tema fokus kegiatan dan semuanya itu masalah krusial di masyarakat,”jelas Dede Rabu (20/7/22)

9 tema itu diantaranya inovasi pendidikan, pemberantasan dan pencegahan stunting, akses identitas kependudukan, pengembangan literasi, desa wisata (pengembangan dan eksplorasi), pendampingan buruh migran, pendampingan ekonomi dan lingkungan pesisir, penerapan Inovasi Teknologi (TTG) dan gerakan anti korupsi.

“Beberapa lokalitas yang ada di film Desa Penari banyak dicari oleh orang, salah satunya adalah Rowo Bayu yang saat ini menjadi desa wisata. Itu juga salah satu yang menginspirasi,”imbuhnya lagi.

Menurut Dede, desa wisata saat ini telah menjadi alternatif dalam pembangunan ekonomi lokal yang diterapkan di berbagai daerah.

“Berwisata di desa, kini telah menjadi pilihan tersendiri bagi wisatawan. Wisatawan menggemari tempat wisata di desa tidak hanya menyajikan keindahan alamnya saja tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal,"katanya.

Ia sangat berharap pelaksanaan KKN ini dapat melakukan pengembangan dan eksplorasi sumberdaya alam yang ada pada suatu wilayah hingga dapat menjadi satu tujuan wisata yang menyerap wisatawan.

Tak hanya itu, Dede juga berpesan kepada ratusan mahasiswa yang mengikuti KKN tahun in agar menjaga sikap khususnya menghormati adat istiadat di suatu daerah, membaur dengan masyarakat sekitar, dan kompak dengan sesama kelompok.

“Penting sebagai pendatang kita menghargai dan menghormati setiap adat istiadat yang dijunjung di setiap daerah, jangan sampai cerita di film KKN Desa Penari terjadi di KKN UM Surabaya karena permasalahan adat istiadat ,”tegas Dede.