14 Kali Gagal, Begini Perjuangan Achmad Hidayatullah Dosen UM Surabaya Raih Beasiswa S3 di Eropa

research
Foto Achmad Hidayatullah Dosen UM Surabaya (Dok: pribadi)


Selalu ada jalan untuk mereka yang serius dalam pendidikan. Kata-kata itulah yang selalu dijadikan pegangan Achmad Hidayatullah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UM Surabaya yang saat ini  menempuh studi di University Of Szeged Hungary Eropa.

Pria kelahiran tahun 1990 asal Madura Jawa Timur tersebut menceritakan pengalamannya kepada redaktur UM Surabaya tentang perjalanan hidupnya yang tidak mudah. Apa yang dicapainya hari ini membutuhkan kesabaran dan perjuangan yang besar.

Dalam wawancara ia menjelaskan bapak dan ibunya adalah seorang Petani. Semasa kecil ia sering membantu bapaknya mencangkul. Sejak SMP dan SMA Dayat memutuskan tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep karena katerbatasan ekonomi. Namun hal tersebut tidak membuat semangatnya surut. Di panti asuhan justru ia bisa bersekolah secara gratis.

Dayat menjelaskan bahwa di panti ia tak bisa hidup mewah seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan hanya sekadar untuk membeli jajan saat waktu istirahat ia tak bisa, karena di panti tidak menyediakan uang saku.

“Bersyukur saya pernah ditempa di panti. Saya belajar disiplin, menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Belajar ilmu agama secara mendalam dan yang terpenting saya bisa bersekolah,”jelas Dayat Selasa (14/6/22)

Menurutnya pula yang diajarkan di panti sangat berpengaruh bagi hidupnya sehingga membentuk pribadi yang strunggle di tengah keterbatasan yang ia jalani.

Pernah Jualan Empek-empek hingga Cleaning Service di Apotek

Saat memutuskan kuliah di Surabaya hidupnya tidak langsung mudah. Menurutnya tahun itu universitas di Indonesia belum menyediakan beasiswa bidikmisi seperti saat ini. Tahun tersebut kampus ada beasiswa BBM dan PPM tapi Dayat selalu gagal.

“Dulu saat masuk kuliah dibantu panti. Tapi untuk biaya makan saya tetap sulit. Waktu itu harga sayur satu plastik 500-1000 rupiah. Setiap hari saya makan seadanya,”terang Dayat.

Menurutnya pula ia sering membeli tempe dan dimakan mentah untuk lauk. Ia sangat menyadari orang tua di desa tidak bisa memberinya materi secara penuh, sehingga ia harus punya usaha lebih untuk bertahan hidup di Surabaya.

“Pernah sehari baru bisa makan jam 12 malam karena benar-benar tidak ada uang waktu itu. Pernah juga saya satu minggu lauk ikan kering karena diberi teman,”ungkapnya lagi.

 

Karena keterbatasan ekonomi yang dialamainya Dayat memutuskan untuk berkuliah sambil bekerja. Ia bekerja sebagai penjual empek-empek hingga menjadi cleaning service . Akibatnya ia menjadi tidak fokus saat belajar di kelas, ditambah aktivias organisasi yang cukup padat.

14 Kali Gagal Ditolak Kampus Luar Negeri

Menurut Dayat sebelum ia diterima di University Of Szeged Hungary ia sempat ditolak belasan kampus luar negeri. Pada percobaan kampus ke 13 dan 14 ia dinyatakan lolos. Ia menjelaskan kegagalan yang ia alami hampir membuatnya stress dan putus asa.

“Saya sempat frutasi karena tidak lolos-lolos study. Saya menyendiri mencari tempat sepi dan menghindari keramaian,”ujarnya.

Dayat menjelaskan ia sudah memutuskan untuk studi di dalam negeri jika usahnaya ke 12 gagal, ia sempat menyampaikan kepada keluarganya. Namun ternyata buah dari kerja kerasnya ia diterima di dua kampus luar negeri yakni National Dong Hwa University Taiwan dan University Of Szeged Hungria. Namun ia memutuskan mengambil di Hungaria Eropa Tengah.

Dayat Kuliah Dan Melakukan Dakwah Islam Berkemajuan di Eropa

Menurut Dayat pada kurun waktu tahun 2017-2019 banyak kader Muhammadiyah dari perguruan tinggi di Indonesia yang diterima dan berhasil lolos beasiswa di Stipendium Hungaricum untuk studi master dan doctoral dan pada saat itualah terbentuk kesepakatan untuk melebarkan dakwah Islam di Eropa.

“Salah satu tantangan dakwah Muhammadiyah adalah banyaknya anak muda yang tidak percaya Tuhan, ini menjadi tantangan tersendiri untuk saya dan teman-teman selain perbedaan budaya dan bahasa,”katanya.

Menurutnya bentukan dakwah yang dilakukan adalah melalui dialog geraka intelektual keagamaan, terkait isu kerusakan lingkungan, kesetaraan gender, kesehatan sosial dan pendidikan.

Dayat juga berharap setelah menyelesaikan studi ia bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui riset-riset yang ia lakukan.

“Selalu ada jalan bagi siapapun yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Tekun belajar, sabar dan iringi dengan doa,”pungkasnya.